Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin mengatakan satu gerbong kereta rel listrik (KRL) dipadati sekitar 300 penumpang saat peak hour atau jam sibuk. (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin mengatakan satu gerbong kereta rel listrik (KRL) dipadati sekitar 300 penumpang saat peak hour atau jam sibuk.
“Perlu digarisbawahi, pada saat ini satu gerbong pada jam sibuk itu penumpangnya sekitar 300 orang,” ucap Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (9/2/2026).
Apabila dilihat dari ukuran gerbong dengan luas sekitar 60 meter persegi, lanjut Bobby, maka dalam setiap satu meter persegi dipadati sekitar lima orang. Ia menyampaikan kepadatan tersebut akan terus bertambah dan berpotensi meningkat hingga enam kali lipat pada 2030 apabila armada KRL tidak segera ditambah.
“Kepadatan penumpang pada KRL mengakibatkan penurunan tingkat kenyamanan penumpang dan peningkatan risiko terhadap keamanan penumpang,” ucap Bobby.
Lebih lanjut, ia menyebut sejumlah stasiun yang menjadi titik kepadatan penumpang, yakni Stasiun Bogor, Stasiun Depok, dan Stasiun Bekasi untuk stasiun di luar Jakarta. Sementara itu, untuk stasiun di Jakarta, terdapat empat stasiun yang dinilai sangat padat, yakni Stasiun Sudirman, Stasiun Manggarai, Stasiun Tanah Abang, dan Stasiun Sudirman Baru.
Dalam paparannya, Bobby mencontohkan kepadatan KRL yang dihadapi penumpang Green Line atau jalur Rangkasbitung. “Memang saat ini kereta yang ke sana (Rangkasbitung) itu headway-nya masih 10–15 menit. Belum bisa kami perpendek headway-nya karena memang ada permasalahan sistem kelistrikan, elektrifikasi, dan juga signaling,” katanya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Bobby menyampaikan pada 2026 KAI akan meningkatkan elektrifikasi dari 3.000 volt menjadi 4.000 volt. “Kami juga akan meningkatkan sistem signaling,” kata Bobby.
sumber : Antara

2 hours ago
3















































