3 Analis Bongkar Fakta Posisi Militer AS Justru Makin Rentan di Hadapan Xi Jinping

1 hour ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah gemuruh perang, ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI), dan perebutan sumber daya strategis dunia, peta kekuatan global perlahan berubah bentuk.

Dunia yang selama puluhan tahun didominasi Amerika Serikat kini bergerak menuju era baru: kompetisi dua raksasa, Washington dan Beijing, yang bukan lagi sekadar bersaing memperebutkan pengaruh politik, tetapi juga mengendalikan infrastruktur paling mendasar dari kehidupan modern.

Dari Selat Hormuz yang memanas akibat konflik Iran-Israel-AS, hingga pusat data AI dan tambang mineral tanah jarang, semuanya kini saling terhubung dalam satu benang merah besar: perebutan kendali atas masa depan dunia.

Tiga tulisan dari media internasional, Al Jazeera, TRT World, dan Fox News, menunjukkan bagaimana rivalitas AS-China tidak lagi terbatas pada perang dagang atau militer semata. Kompetisi itu telah masuk ke wilayah yang lebih dalam: energi, teknologi, rantai pasok, hingga kemampuan negara mengendalikan ketergantungan global.

Wenran Jiang, direktur pendiri China Institute di Universitas Alberta, melihat perubahan itu dari sudut geopolitik Timur Tengah. Dalam tulisannya di Al Jazeera, ia menilai posisi Amerika Serikat justru semakin bergantung pada China di tengah krisis Selat Hormuz. Menurutnya, setelah keterlibatan militer AS dalam konflik Iran, Washington menghadapi tekanan besar akibat terganggunya jalur energi global.

“Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, Amerika Serikat berada dalam posisi yang sangat rentan, semakin bergantung pada kerja sama China untuk melepaskan diri dari bencana yang disebabkan oleh diri sendiri,” tulis Jiang.

Pandangan Jiang memperlihatkan satu hal penting: China kini tidak lagi diposisikan hanya sebagai “penantang” Amerika, tetapi sebagai kekuatan yang dianggap mampu menentukan stabilitas krisis global. Dalam konteks Selat Hormuz, Beijing dinilai memiliki pengaruh diplomatik yang cukup besar terhadap Iran sehingga Washington mau tidak mau harus membuka komunikasi lebih intens dengan Xi Jinping.

Namun menariknya, Jiang menilai Beijing tidak sedang terburu-buru menyelamatkan Amerika. China justru dianggap sedang memainkan “permainan jangka panjang”. Dalam tulisannya, ia menyebut Beijing ingin menggunakan momentum krisis untuk mendorong lahirnya arsitektur keamanan multipolar baru di Timur Tengah, sekaligus memperkuat posisi strategisnya dalam isu Taiwan dan pengaruh Jepang di Asia Timur.

Sementara itu, tulisan Seyithan Ahmed Ates di TRT World membawa pembaca pada medan kompetisi yang berbeda: kecerdasan buatan atau AI.

Read Entire Article
Politics | | | |