REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada hari-hari ketika kita merasa hidup sedang berjalan mundur. Apa yang dahulu terasa dekat, tiba-tiba menjauh. Apa yang sudah kita susun dengan hati-hati, berantakan oleh keadaan yang tak pernah kita rencanakan. Kita melihat orang lain telah sampai di tempat yang mereka tuju, sementara kaki kita seperti masih berdiri di persimpangan yang sama. Pada saat seperti itu, masa depan mudah terlihat seperti lorong panjang tanpa cahaya.
Ada pula masa ketika doa-doa terasa menggantung terlalu lama di langit. Kita sudah mengetuk, tetapi pintu belum terbuka. Sudah menanam, tetapi tanah belum menumbuhkan apa-apa. Sudah berusaha menjaga hati agar tetap percaya, tetapi diam-diam muncul sebuah pertanyaan kecil: Apakah esok benar-benar akan lebih baik?
Alquran menjawab kegelisahan itu dengan sebuah ayat yang sangat pendek. Hanya beberapa kata. Namun, ia seperti tangan yang diletakkan lembut di bahu seseorang yang sedang kehilangan keberanian untuk menatap hari depan.
Allah berfirman:
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ
Wa lal-ākhiratu khairul laka minal-ūlā.
“Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.”
(QS Ad-Dhuha [93]: 4)
Ketika Langit Seakan Diam
Ayat ini tidak berdiri sendirian. Ia berada dalam Surah Ad-Dhuha, surah yang turun membawa penghiburan kepada Rasulullah SAW.
Dalam penjelasan para mufasir, Surah Ad-Dhuha berkaitan dengan masa ketika wahyu sempat terhenti. Keadaan itu menjadi celah bagi orang-orang yang memusuhi Rasulullah untuk melontarkan ejekan. Mereka mengatakan seolah-olah Tuhan Muhammad telah meninggalkannya.
Bayangkan perasaan yang menyertai masa itu.
Seorang Nabi yang hidupnya sepenuhnya bergantung kepada petunjuk Allah tiba-tiba harus melewati hari-hari ketika wahyu tidak turun. Langit yang biasanya membawa pesan seakan menjadi sunyi.
Kemudian Allah membuka Surah Ad-Dhuha dengan sumpah yang begitu indah:
وَالضُّحَىٰ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ
“Demi waktu duha, dan demi malam apabila telah sunyi.”
Seakan-akan Allah mengajak Rasul-Nya memandang pergantian waktu. Ada malam. Ada pagi. Ada gelap. Ada cahaya. Dan tidak ada satu pun yang tinggal selamanya. Lalu datanglah penegasan:
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
“Tuhanmu tidak meninggalkan engkau dan tidak pula membencimu.”
Barulah setelah itu Allah mengatakan:
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ
Yang akan datang lebih baik daripada yang telah berlalu.
Allah Sedang Mengajari Kita Melihat Lebih Jauh
Dalam Tafsir ath-Thabari, makna al-ākhirah pada ayat ini terutama menunjuk kepada kehidupan akhirat. Apa yang Allah persiapkan bagi Rasulullah SAW di akhirat jauh lebih baik daripada apa yang diberikan kepada beliau di dunia.
Ibn Katsir juga menerangkan makna yang sejalan: negeri akhirat bagi Rasulullah lebih baik daripada dunia. Kemuliaan yang menanti beliau di sisi Allah melampaui segala sesuatu yang dimiliki dunia.
Ini penting. Sebab optimisme Alquran bukan optimisme kosong yang menjanjikan bahwa setiap persoalan dunia pasti berakhir persis seperti yang kita inginkan.
Alquran menawarkan sesuatu yang jauh lebih kokoh. Bahwa perjalanan seorang mukmin bergerak menuju Allah, dan ujung perjalanan bersama Allah tidak pernah sia-sia. Karena itu, ayat ini mengubah cara kita memandang masa depan.
Kita sering menganggap masa depan baik hanya apabila sesuai dengan rencana kita. Kita meminta satu pintu, lalu kecewa ketika pintu itu tertutup. Padahal mungkin Allah mengetahui bahwa di balik pintu tersebut ada jalan yang akan melukai kita.
Kita menangisi sesuatu yang pergi. Padahal kita belum melihat apa yang sedang datang. Kita meratapi satu halaman yang berakhir, seakan-akan buku kehidupan telah selesai. Padahal Allah masih memegang begitu banyak halaman yang belum kita baca.

9 hours ago
10









































