REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Besarnya peluang bisnis dari agenda keberlanjutan belum otomatis membuat proyek hijau mudah memperoleh pembiayaan. Kesiapan proyek, profil risiko, kepastian arus kas, dan kompleksitas struktur pembiayaan menjadi faktor penting yang menentukan apakah peluang transisi berkelanjutan dapat diwujudkan.
Bank DBS Indonesia menilai kondisi tersebut mendorong perubahan peran perbankan. Bank tidak lagi cukup bertindak sebagai penyedia modal, tetapi juga perlu membantu perusahaan menyiapkan proyek, menentukan struktur pembiayaan, dan menemukan solusi yang mampu mempertemukan target keberlanjutan dengan kelayakan komersial.
Temuan tersebut menjadi bagian dari riset Bank DBS Indonesia bersama Tenggara Strategics berjudul The Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks. Riset itu mengkaji lima sektor strategis Indonesia, yaitu energi dan infrastruktur, teknologi, media dan telekomunikasi, pangan dan agribisnis, kesehatan dan farmasi, serta logam dan pertambangan.
Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia Anthonius Sehonamin mengatakan perubahan menuju bisnis berkelanjutan membutuhkan pendekatan yang berbeda di setiap sektor. “Namun, pergeseran menuju bisnis yang lebih berkelanjutan tidak memiliki satu jalur yang sama di setiap sektor. Melalui riset ini, Bank DBS Indonesia berupaya memberikan insights yang lebih terarah mengenai perubahan yang terjadi di berbagai sektor strategis, sekaligus peluang dan tantangan yang perlu diantisipasi dunia usaha,” kata Anthonius, Kamis (20/8/2026).
Dalam riset tersebut, DBS menekankan peluang keberlanjutan harus diterjemahkan menjadi proyek yang memiliki kesiapan teknis dan finansial. Karena itu, instrumen pembiayaan perlu disesuaikan dengan karakteristik sektor dan risiko yang dihadapi.
Bank DBS Indonesia menyediakan sejumlah instrumen, mulai dari sustainability financing, sustainability-linked financing, structured and blended finance, business lending, trade finance, hingga pembiayaan rantai pasok. Instrumen tersebut dilengkapi layanan advisory untuk membantu perusahaan merancang dan menjalankan transformasi bisnis.
Pada sektor energi dan infrastruktur, misalnya, kebutuhan elektrifikasi menciptakan peluang besar sekaligus kebutuhan investasi baru. Konsumsi listrik Indonesia diproyeksikan meningkat dari sekitar 300 TWh pada 2024 menjadi lebih dari 1.800 TWh pada 2060. Sementara itu, potensi energi terbarukan mencapai sekitar 3.687 GW, tetapi pemanfaatannya masih kurang dari 0,5 persen.
Hambatan transmisi dan bankability proyek menjadi persoalan yang harus diatasi agar potensi tersebut dapat diwujudkan. Bank DBS Indonesia menyebut telah mendukung pembiayaan proyek energi terbarukan, termasuk panas bumi, serta pembiayaan hijau untuk ekosistem elektrifikasi kendaraan listrik roda dua dan infrastruktur penukaran baterai.
Pada sektor teknologi, perkembangan AI turut mengubah kebutuhan investasi. Pertumbuhan sektor telekomunikasi berbasis konektivitas melambat, tetapi ekonomi digital terus berkembang. Total GMV ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 99 miliar dolar AS pada 2025.
Perubahan tersebut mendorong kebutuhan terhadap cloud, keamanan siber, dan pusat data. Chairman Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), Hendra Suryakusuma, menilai pusat data berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru.
“Momentum pertumbuhan AI membuat pusat data menjadi growth engine baru bagi ekosistem digital Indonesia. Namun, ketersediaan energi terbarukan dan kepastian kebijakan ke depan akan sama pentingnya dengan besarnya potensi pasar dalam menentukan keputusan investasi,” kata Hendra.

2 hours ago
5









































