REPUBLIKA.CO.ID, GIANYAR -- Maybank Indonesia memperkuat literasi dan inklusi keuangan sejak usia sekolah melalui edukasi kepada pelajar di Kabupaten Gianyar, Bali. Program tersebut menyasar puluhan sekolah yang berada di sekitar rute ajang maraton, dengan materi yang tidak hanya mengenalkan pengelolaan keuangan, tetapi juga membekali pelajar agar lebih bijak menggunakan layanan keuangan digital.
Kegiatan literasi keuangan tersebut dilaksanakan sejak Juli hingga 23 Agustus 2026 dan menyasar 40 sekolah di Kabupaten Gianyar. Dari jumlah tersebut, sebanyak 35 sekolah merupakan sekolah dasar (SD), tiga sekolah menengah pertama (SMP), dan dua sekolah menengah atas (SMA).
Untuk jenjang SD, program terutama menyasar pelajar kelas III hingga VI. Materi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan peserta didik, mulai dari pengelolaan keuangan hingga pemanfaatan layanan keuangan di era digital.
Head of Sustainability Maybank Indonesia Maria Trifanny Fransiska mengatakan literasi keuangan perlu diberikan sejak dini agar pemahaman mengenai pengelolaan keuangan tidak hanya berhenti pada pengetahuan mengenai uang, tetapi juga membentuk kebiasaan dan kecakapan dalam mengambil keputusan keuangan.
“Literasi keuangan itu tidak hanya untuk pelajar tetapi juga kepada para guru,” kata Maria di sela kegiatan sosial pemberdayaan penyandang disabilitas di Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali, Jumat (21/8/2026).
Menurut dia, guru memiliki peran penting dalam membantu menyampaikan dan memperkuat pemahaman mengenai literasi keuangan kepada para pelajar. Dengan demikian, edukasi yang diberikan di sekolah diharapkan dapat menjadi bagian dari pembentukan kebiasaan finansial yang sehat sejak usia dini.
Selain pengelolaan keuangan, edukasi juga mencakup pemahaman mengenai digitalisasi keuangan. Pelajar diperkenalkan pada perkembangan layanan keuangan digital sekaligus pentingnya menggunakan layanan tersebut secara bijak dan bertanggung jawab.
Salah satu perhatian dalam materi edukasi tersebut adalah meningkatkan kesadaran pelajar agar terhindar dari judi daring. Perkembangan teknologi dan semakin mudahnya akses terhadap berbagai layanan digital membuat pemahaman mengenai risiko penggunaan layanan keuangan menjadi semakin penting, termasuk bagi generasi yang sejak kecil sudah akrab dengan perangkat digital.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai keuangan sekaligus mendorong pemanfaatan layanan keuangan secara lebih bertanggung jawab.
Di sisi lain, Maybank Indonesia juga menjalankan program pemberdayaan inklusif bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Gianyar. Salah satunya dilakukan melalui dukungan kepada Piduh Charity Cafe di Blahbatuh.
Melalui program tersebut, Maybank Indonesia menyalurkan donasi nasabah senilai Rp88,656 juta untuk mendukung pengembangan dan pemberdayaan inklusif di Piduh Charity Cafe.
Piduh Charity Cafe merupakan usaha yang memberdayakan penyandang disabilitas sebagai bagian dari tenaga kerjanya. Sebanyak 10 pegawai di kafe tersebut merupakan penyandang disabilitas, di antaranya penyandang Down syndrome dan autisme.
Program tersebut menunjukkan bahwa inklusi keuangan tidak hanya berkaitan dengan akses masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan. Inklusi juga perlu berjalan beriringan dengan pemberdayaan agar kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan tetap memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dan berkembang secara ekonomi.
Asisten Direktur Bidang Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen (PEPK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bali Yogie Harsakusumah mengatakan lembaga jasa keuangan memiliki peran penting dalam menginisiasi program literasi dan inklusi keuangan, termasuk melalui pemberdayaan kelompok masyarakat secara inklusif.
Menurut Yogie, peningkatan akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan harus diikuti dengan pemahaman yang memadai dari masyarakat. Ketidakseimbangan antara tingkat inklusi dan literasi dapat menimbulkan persoalan ketika masyarakat menggunakan produk keuangan tanpa memahami manfaat, risiko, maupun konsekuensinya.
Ia mengatakan sebagian pengaduan konsumen yang muncul berkaitan dengan adanya celah antara pemanfaatan produk jasa keuangan dan tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk tersebut.
“Dengan literasi itu masyarakat semakin teredukasi sehingga dapat lebih memahami penggunaan layanan atau produk jasa keuangan,” ucap Yogie.
Karena itu, OJK mendukung berbagai upaya yang dilakukan industri jasa keuangan, termasuk perbankan, untuk meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus mendorong pemanfaatan produk dan layanan keuangan secara tepat.
Yogie menjelaskan lembaga jasa keuangan, termasuk perbankan, juga memiliki kewajiban menyampaikan rencana kegiatan literasi dan inklusi keuangan setiap tahun. Pelaksanaan program tersebut kemudian dipantau secara berkala setiap semester.
Upaya memperkuat literasi menjadi semakin penting seiring dengan meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan nasional mencapai 69,57 persen.
Angka tersebut meningkat dibandingkan hasil SNLIK 2025 yang mencatat indeks literasi keuangan sebesar 66,64 persen. Sementara itu, indeks inklusi keuangan pada 2026 mencapai 93,61 persen, naik dari 92,74 persen pada 2025.
Hasil tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat yang memiliki akses terhadap layanan keuangan. Namun, peningkatan akses tersebut tetap perlu diiringi dengan penguatan pengetahuan dan pemahaman agar masyarakat dapat menggunakan produk dan layanan keuangan secara aman dan sesuai kebutuhan.
SNLIK 2026 dilakukan dengan metodologi survei dengan sampel yang tersebar di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota. Data tersebut menjadi gambaran mengenai perkembangan tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia sekaligus menunjukkan pentingnya edukasi keuangan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Bagi pelajar, penguatan literasi keuangan sejak bangku sekolah diharapkan dapat menjadi bekal dalam menghadapi lingkungan ekonomi dan digital yang terus berkembang. Pemahaman mengenai cara mengelola uang, mengenali risiko layanan keuangan, serta menggunakan teknologi secara bijak menjadi bagian dari kecakapan yang semakin dibutuhkan generasi muda.

1 hour ago
5









































