Marfuah Rangkuti
Pendidikan | 2026-08-21 13:22:59
Sumber : Urbanisasi dan Bonus Demografi dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045 - Pusat Penelitian Kependudukan dan Gender (PPKG)
Kita Tidak Tahu Mengapa Kita Menjadi Seperti Sekarang
Psikoanalisis memandang manusia sebagai individu yang perilakunya dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu dan proses yang tidak selalu kita sadari.
Ada seseorang yang terlihat keras, tapi kita tidak pernah tahu apa yang pernah ia lalui. Ada seseorang yang sulit percaya kepada orang lain, padahal mungkin ia hanya sedang belajar berhati-hati dari luka yang lama. Bahkan mungkin, ada bagian dari diri kita sendiri yang belum sepenuhnya kita pahami.
Dari sini saya belajar: memahami manusia berarti belajar memahami cerita di balik perilakunya. Kita sering hanya melihat "apa yang dilakukan seseorang", tapi lupa bertanya "apa yang mungkin membentuknya?"
Lingkungan Ikut Membentuk Kita
apa yang terus-menerus kita alami, cara kita berkomunikasi, kebiasaan kita, bahkan keberanian atau ketakutan tertentu.
Ini membuat saya sadar bahwa ketika ingin melihat perubahan pada seseorang, kita tidak cukup hanya meminta orang itu berubah. Kita juga perlu bertanya: sudahkah lingkungan di sekitarnya memberi ruang untuk berubah?
Sebab manusia tidak tumbuh sendirian. Keluarga, pendidikan, teman, komunitas, dan masyarakat semuanya ikut ambil bagian dalam membentuk manusia yang kelak menjadi bagian dari masa depan bangsa.
Tapi Manusia Bukan Sekadar Hasil dari Masa Lalu
Di sinilah pendekatan humanistik memberi perspektif yang, menurut saya, paling menguatkan. Humanistik melihat manusia sebagai individu yang punya kebebasan, potensi, dan kemampuan untuk terus berkembang.
Artinya, meski masa lalu membentuk kita dan lingkungan memberi pengaruh, kita tidak harus selamanya menjadi hasil dari keduanya. Kita masih bisa memilih, berubah, bertumbuh.
Ada sesuatu dalam diri manusia yang membuatnya mampu berkata, "Saya memang pernah berada di titik itu, tapi saya tidak harus selamanya di sana". Dan bagi saya, inilah hal paling penting yang saya bawa pulang dari pembelajaran hari ini.
Manusia Itu Kompleks
Ketiga pendekatan itu membawa saya pada satu pemahaman: manusia itu kompleks. Kita dipengaruhi oleh sesuatu di dalam diri kita, dibentuk oleh pengalaman dan lingkungan, tapi juga punya potensi untuk menentukan arah hidup kita sendiri.
Karena itu, memahami manusia tidak bisa dilakukan dari satu sisi saja. Kita terlalu sering cepat memberi label malas, sulit diatur, tidak percaya diri, tidak peduli padahal mungkin ada cerita yang tidak kita ketahui, lingkungan yang tidak mendukung, atau potensi yang belum menemukan ruang untuk berkembang.
Kalau cara pandang ini kita bawa ke dalam kehidupan sosial, pendidikan, maupun pembangunan, pertanyaannya pun bergeser. Bukan lagi sekadar "bagaimana membuat manusia lebih produktif?", tapi juga "bagaimana menciptakan lingkungan yang membuat manusia mampu bertumbuh?"
Lalu, Apa Hubungannya dengan Indonesia Emas 2045?
berarti pintar, produktif, atau mampu bersaing.
Manusia yang unggul juga perlu mampu memahami dirinya sendiri, belajar dari pengalaman, beradaptasi dengan perubahan, memiliki empati, memegang nilai, dan mau terus berkembang. Sebab teknologi bisa terus maju, ekonomi bisa terus tumbuh, infrastruktur bisa terus dibangun, tapi semua itu pada akhirnya tetap membutuhkan manusia yang mampu mengelolanya dengan bijak.
Maka membangun Indonesia Emas seharusnya bukan hanya soal membangun negara, tapi juga membangun manusianya. Dan manusia itu sedang dibentuk hari ini di ruang kelas, di dalam keluarga, di lingkungan pertemanan, di komunitas, di tengah masyarakat, termasuk lewat pengalaman-pengalaman kecil yang sering kita anggap tidak berarti.
Saya dan Indonesia Emas 2045
Lalu saya bertanya pada diri sendiri: kalau Indonesia Emas 2045 adalah masa depan yang ingin saya perjuangkan, apa yang bisa saya lakukan?
Saya belum tahu akan berada di posisi apa pada tahun 2045 nanti, dan belum tahu seberapa besar kontribusi yang bisa saya berikan. Tapi pembelajaran hari ini membuat saya sadar bahwa saya tidak harus menunggu menjadi seseorang yang "besar" untuk mulai berkontribusi.
Saya bisa memulainya dari cara saya memahami manusia. Dari cara saya memperlakukan orang lain. Dari kemauan saya untuk terus belajar. Dari keberanian mengakui bahwa saya juga masih bertumbuh, dan dari upaya menciptakan ruang yang membuat orang lain merasa aman untuk bertumbuh bersama.
Karena mungkin, memperjuangkan Indonesia Emas bukan selalu tentang melakukan sesuatu yang besar. Mungkin, memperjuangkan Indonesia Emas adalah tentang menjadi manusia yang terus bertumbuh, lalu membantu manusia lain untuk ikut bertumbuh.
Sebelum Indonesia Menjadi Emas
Pada akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: kita tidak bisa membangun Indonesia yang kuat tanpa membangun manusia yang kuat. Kita tidak bisa bicara tentang masa depan bangsa tanpa bicara tentang manusia yang akan mengisinya.
Mungkin karena itu, sebelum bertanya "Indonesia seperti apa yang ingin kita lihat pada tahun 2045?", kita perlu bertanya lebih dulu: "Manusia seperti apa yang ingin kita hadirkan di dalamnya?"
Saya ingin menjadi bagian dari manusia-manusia yang terus bertumbuh itu. Bukan karena saya sudah selesai dengan diri saya sendiri, tapi justru karena saya sadar bahwa saya masih dalam proses. Dan mungkin, dari proses kecil itulah kontribusi besar untuk Indonesia dimulai.
Memahami manusia. Menemani pertumbuhannya. Bertumbuh bersama.
Karena sebelum membangun Indonesia yang emas, kita perlu membangun manusianya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
8










































