REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Warga Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat memblokade jalur lintasan kendaraan offroad dan motor cross. Hal itu dikarenakan aktivitas tersebut berdampak terhadap kerusakan lingkungan, infrastruktur jalan hingga menganggu ketentraman.
Jalur offroad dan motor cross itu berada di hutan Sukawana-Cikole, kawasan Bandung Utara. Puncaknya terjadi pada Ahad (15/2/2026) ketika warga RT 03/12 Desa Sukajaya menutup jalur offroad yang melintasi kawasan pertanian dan hutan penyangga desa. Penutupan dilakukan karena mediasi dengan pengelola wisata, KRPH Cisarua, dan pemerintah desa belum menghasilkan kesepakatan.
"Kami tidak menolak wisata, tapi jangan sampai merusak sumber air dan mata pencaharian warga. Kalau belum ada aturan dan pengawasan yang jelas, jalur ini tetap kami tutup," kata Ketua RT 03 RW 12 Kampung Cipariuk, Aep saat dikonfirmasi, Rabu (18/2/2026).
Warga menilai aktivitas offroad dan motor trail di kawasan hutan Lembang sangat berdampak terhadap lingkungan. Di antaranya merusak sumber air bersih bagi tiga kampung di Desa Sukajaya. Mata air tercemar lumpur, pipa distribusi pecah, dan aliran air terganggu setiap kali hujan turun.
Kerusakan itu berdampak langsung terhadap kebutuhan air warga di RW 12 yang meliputi Kampung Cipariuk, Nagrak, dan Pojok. Ketiga kampung itu bergantung pada satu sumber mata air di kawasan hutan yang berdekatan dengan lintasan kendaraan offroad dan motor trail.
"Jadi memang sumber air kami ini bergantung pada mata air yang berada di kawasan hutan. Nah sekarang setiap hujan turun air jadi keruh karena lumpur dari jalur offroad masuk ke mata air kami," ujar Aep.
Menurut dia, mata air bernama Air Kiara yang menjadi sumber utama air bersih kini kerap meluap dan berubah warna saat hujan deras. Lokasinya berada di bagian atas kawasan yang beririsan dengan jalur lintasan. Saat hujan turun, lumpur dari jalur yang terkikis ban kendaraan mengalir langsung ke area penampungan air warga.
"Lintasannya kan banyak membentuk kubangan-kubangan. Tanahnya semakin lama tergali oleh ban kendaraan. Nah lumpurnya ini kerap kali masuk dan mengotori mata air," kata Aep.
Warga juga mencatat kerusakan pada jaringan pipa air yang melintas di area tersebut. Sejumlah pipa dilaporkan pecah setelah tergilas kendaraan yang melintas di jalur terlarang. "Di sana kan ada paralon air warga. Sering itu pada pecah. Belum lagi menginjak rumput-rumput yang sengaja ditanam warga untuk ternak mereka," tutur Aep.
Selain merusak sumber air dan area hijau, aktivitas motor trail juga merusak infastruktur jalan hingga menimbulkan gangguan kebisingan hingga ke permukiman. Tanah yang menempel di ban kendaraan ikut terbawa ke jalan kampung dan membuat permukaan jalan licin saat hujan.
"Suara knalpot kadang bukan hanya siang. Malam hari juga ada yang lewat. Belum lagi tanah-tanah yang dari kendaraan mereka itu terbuangnya di jalan kampung kami. Ketika hujan jalanan jadi licin," kata Aep.

2 hours ago
7














































