REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Akademisi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) Adryan Fitrayudha menilai kebijakan gentengisasi yang diusulkan Presiden Prabowo Subianto berpotensi mendongkrak biaya konstruksi rumah secara signifikan. Tapi, kebijakan ini berpotensi mendorong pertumbuhan industri genteng dalam negeri.
“Proyeksi kenaikan biaya konstruksi saat mengganti atap seng dengan genteng bisa berkisar antara 130 persen hingga 350 persen,” ujarnya di Mataram, Nusa Tenggara Barat, belum lama ini.
Adryan memaparkan hasil studi pasar yang telah dilakukan sebelumnya bahwa biaya atap seng berkisar antara Rp 80.000 hingga Rp 120.000 per meter persegi.
Sementara itu, biaya genteng berbahan beton, tanah liat, maupun keramik dapat mencapai Rp 250.000 hingga Rp 400.000 per meter persegi, tergantung kualitas dan variasi desain.
Perbandingan harga material tersebut menunjukkan penggantian atap seng dengan genteng dapat menimbulkan kenaikan biaya material satu hingga tiga kali lipat, tergantung jenis genteng yang digunakan.
“Selain biaya material, perlu juga dipertimbangkan biaya pemasangan,” kata Adryan.
Ia menjelaskan pemasangan atap seng lebih sederhana dan cepat sehingga dari sisi biaya tenaga kerja relatif lebih rendah.
Adapun atap genteng membutuhkan teknik pemasangan yang lebih detail serta melibatkan tenaga kerja dengan keterampilan khusus. Faktor tersebut menyebabkan biaya pemasangan genteng cenderung lebih tinggi sekitar 20 hingga 50 persen.
Jika seluruh komponen biaya tersebut digabungkan, penggunaan genteng dibandingkan seng dapat memicu kenaikan biaya konstruksi atap rumah sekitar 130 persen hingga 350 persen.
“Dalam pertimbangan jangka panjang, penting untuk mencatat bahwa genteng dapat memberikan keuntungan dari segi durabilitas dan pemeliharaan,” ujar Adryan.
Pakar di bidang struktur dan rekayasa material tersebut mengungkapkan genteng keramik lebih tahan terhadap cuaca ekstrem dan tidak mudah berkarat sehingga berpotensi menekan biaya perawatan dalam jangka panjang.
Menurut dia, atap genteng memang lebih mahal pada tahap awal pembangunan rumah, tetapi dapat lebih hemat dalam jangka panjang karena umur pakainya lebih lama dibandingkan atap seng.
Adryan juga menyinggung arahan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong penggunaan genteng secara nasional sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap material impor serta memanfaatkan bahan baku lokal.
Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi mendorong pertumbuhan industri genteng dalam negeri. Namun, ia mengingatkan agar aspek keterjangkauan tetap menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
“Keputusan perubahan itu perlu ditentukan tidak hanya berdasarkan angka biaya awal, tetapi juga berdasarkan keuntungan fungsional dan estetika yang diberikan oleh penggunaan genteng,” pungkasnya.
sumber : ANTARA

3 hours ago
5













































