Laba Unilever Melejit di Tengah Tantangan Daya Beli, Tumbuh 21,8 Persen

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) membukukan laba bersih Rp 3,5 triliun sepanjang tahun buku 2025. Angka ini naik 21,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya di tengah kondisi daya beli masyarakat yang masih tertekan.

Penjualan bersih dari operasi yang masih berjalan tercatat Rp 31,9 triliun atau tumbuh 4,3 persen secara tahunan. Kinerja ini menunjukkan konsumsi produk kebutuhan sehari-hari masih bergerak, meski masyarakat makin selektif dalam berbelanja.

Bagi rumah tangga, stabilitas produsen barang konsumsi menjadi penting. Produk seperti sabun, sampo, deterjen, dan bumbu masak merupakan kebutuhan rutin. Ketika perusahaan mampu menjaga produksi dan distribusi, pasokan di pasar relatif terjaga.

Secara profitabilitas, laba sebelum pajak dari operasi yang masih berjalan meningkat menjadi 14,1 persen. Arus kas bebas mencapai Rp 4,9 triliun atau 1,7 kali lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, dengan posisi tanpa utang. Kondisi ini mencerminkan fondasi keuangan yang lebih kuat.

Presiden Direktur Unilever Indonesia, Benjie Yap, menyatakan tren pemulihan terus berlanjut. “Hasil kinerja kami sepanjang tahun menunjukkan bahwa momentum pemulihan yang telah kami bangun terus menguat. Langkah-langkah disiplin dan perubahan struktural yang kami terapkan telah memberikan dampak yang berkelanjutan, tercermin dari pertumbuhan dan peningkatan profitabilitas,” ujarnya dalam Paparan Kinerja Unilever Tahun 2025 yang diselenggarakan secara daring, Kamis (12/2/2026).

Sepanjang 2025, perseroan memperkuat strategi pada tiga pilar, yakni kategori produk, saluran penjualan, dan efisiensi biaya. Sebanyak 16 merek utama berkontribusi 75 persen terhadap total penjualan dan mencatat pertumbuhan sepanjang tahun.

Perusahaan juga memperluas distribusi di perdagangan tradisional dan kanal digital. Langkah ini dinilai penting untuk menjangkau konsumen yang kini berbelanja lewat berbagai saluran, termasuk daring.

Untuk 2026, manajemen tetap membidik pertumbuhan berbasis kualitas dan volume. Meski kuartal pertama diperkirakan melambat karena pergeseran belanja akibat Idul Fitri yang lebih awal, perusahaan menilai dampaknya bersifat musiman.

“Kami memulai 2026 dengan keyakinan pada fondasi yang telah kami bangun dan fokus yang jelas untuk memberikan dampak,” kata Benjie. Ia menegaskan komitmen untuk tumbuh berkelanjutan dan memberi nilai bagi masyarakat Indonesia.

Di tengah tekanan daya beli dan persaingan ketat, kinerja ini menjadi sinyal bahwa konsumsi kebutuhan pokok masih menjadi penopang utama ekonomi rumah tangga.

Read Entire Article
Politics | | | |