Aparat: Penyerang Bandara Koroway Batu dari Kelompok Batalyon Kanibal 

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAYAPURA — Pasukan Gabungan Polri dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) berhasil menguasai kembali Bandar Udara (Bandara) Koroway Batu di Boven Digoel, Papua Selatan, Kamis (12/2/2026). TNI juga mengungkapkan bahwa serangan itu dilakukan kelompok separatis yang dikenal dengan sebutan Batalyon Kanibal.

Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz Komisaris Besar (Kombes) Yusuf Sutedjo menambahkan, dari penelusuran sementara pasukan keamanan mengidentifikasi pelaku penyerangan yang menewaskan dua orang itu merupakan kelompok bersenjata Elkius Kobak. 

“Berdasarkan hasil pendalaman awal, aparat keamanan menduga (penyerangan) itu dilakukan kelompok bersenjata yang mengatasnamakan KKB Yahukimo, termasuk kelompok yang dikenal dengan sebutan Batalyon Kanibal dan Batalion Semut Merah yang dipimpim Elkius Kobak,” begitu kata Yusuf dalam pernyataan pada Kamis (12/2/2026). 

Sampai saat ini, kata Yusuf, pasukan gabungan Satgas Damai Cartenz dan Kopasgat TNI AU, bersama-sama Angkatan Darat (AD) masih terus melakukan perburuan, dan pengamanan di Bandara Koroway Batu. Kata Yusuf, untuk sementara meskipun sudah dipastikan objek vital negara itu dalam penguasaan, dan diupayakan jaminan keamanannya. Namun aktivitas penerbangan dari dan ke bandara itu distop sementara. “Penerbangan dihentikan sementara, sampai dipastikan keamanan sepenuhnya,” ujar Yusuf.  

Yusuf melanjutkan, operasi gabungan pasukan keamanan di sekitar luar Bandara Korowai Batu, pun turut dilakukan. Hal tersebut, kata Yusuf melihat kondisi warga di perkampungan di sekitar bandara memilih untuk mengungsi. Tercatat 39 warga setempat mengungsi ke wilayah Senggo. 

Kata Yusuf, warga memilih mengungsi lantaran merasa takut akan terjadinya lagi penyerangan-penyerangan yang dilakukan oleh kelompok separatis bersenjata. “Aparat keamanan kita berupaya melakukan sterilisasi secara lokal, agar masyarakat dapat kembali beraktivitas normal,” ujar Yusuf. Pasukan keamanan, kata Yusuf juga melakukan pengamanan ketat terhadap fasilitas-fasilitas umum, termasuk pengamanan para tenaga kesehatan dan pendidikan.

Pada Rabu (11/2/2026) kelompok separatis bersenjata melakukan penyerangan di Bandara Koroway Batu. Penyerangan itu menyasar pesawat penerbangan sipil Smart Aviation yang baru mendarat dari Bandara Tanah Merah. Pesawat perintis itu membawa 13 penumpang sipil termasuk seorang bayi. 

Pesawat kecil tersebut diawaki pilot Kapten Egon Erawan, dan kopilot Kapten Baskoro. Namun nahas, kedua awak pesawat tersebut meninggal dunia setelah ditembak di landasan pacu pesawat di bandara tersebut.

Pasukan Gabungan Polri dan TNI sejauh ini berhasil menguasai kembali Bandara Koroway. Bandara itu sempat dalam penguasaan kelompok separatis bersenjata kemarin.Jenazah para korban juga berhasil dievakuasi.

Kepala Operasi Damai Cartenz Brigadir Jenderal (Brigjen) Faizal Ramadhani menerangkan, 32 personel tempur dikerahkan sejak Rabu (11/2/2026) untuk mengambil alih pengamanan bandara tersebut. Dan pada Kamis pagi tadi, 20 personel tempur dari Satgas Damai Cartenz, dan 12 pasukan Kopasgat TNI Angkatan Udara (AU) melakukan operasi penguasaan kembali objek vital negara di Boven Digoel itu. “Sejak pagi tadi, personel kami sudah berhasil mengamankan seluruh area bandara. Dan evakuasi korban juga sudah berhasil dilakukan,” kata Faizal melalui siaran pers, Kamis (12/2/2026).

Satgas Operasi Damai Cartenz mengevakuasi dua jenazah pilot Smart Aviation yang meninggal dunia di Bandara Koroway Batu, Boven Digoel, Papua Selatan, Kamis (12/2/2026).

Dua jenazah pilot dan kopilot itu, kata Faizal menerangkan sudah dibawa ke Timika untuk dilakukan otopsi dan persemayaman sementara. Selanjutnya kata dia, jenazah Kapten Egon dan Kapten Baskoro akan diterbangkan ke Jakarta untuk diserahkan kepada pihak keluarga.

Adapun 13 penumpang pesawat Smart Aviation yang turut menjadi korban penyerangan, kata Faizal semuanya dalam kondisi sehat dan aman. Termasuk kata dia, satu bayi yang turut dalam manifes penerbangan sipil itu. “Mereka (13 penumpang) merupakan warga lokal. Dan sudah dipastikan selamat, kembali ke keluarga di rumah masing-masing,” ujar dia. 

Penyerangan terhadap pesawat-pesawat sipil yang dilakukan kelompok separatisme di Papua ini, bukan kali yang pertama. Dan bukan cuma kali ini penyerangan armada-armada udara sipil itu menelan korban jiwa. Pada Agustus 2024 lalu, kelompok separatis bersenjata juga menyerang helikopter sipil milik PT Intan Angkasa Air Service yang mendarat di Bandara Mimika di Distrik Alama. Pilot Glenn Malcolm Conning juga meninggal dunia dalam kondisi yang tragis dalam penyerangan tersebut. Dan penyerangan juga pernah dialami pesawat perintis Susi Air yang berujung pada penyanderaan Pilot Kapten Phillips Mark Mehrtens.

Read Entire Article
Politics | | | |