Transaksi Digital Dominan, Bank Dinilai Masih Perlu Kantor Cabang di Daerah  

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID,TANGERANG — Dominasi transaksi digital tidak serta-merta menghapus kebutuhan kantor cabang perbankan. Meski lebih dari 99 persen transaksi telah beralih ke kanal digital, layanan fisik masih dibutuhkan karena nilai transaksi besar, kebutuhan layanan kompleks, dan faktor kepercayaan, terutama di luar kota-kota besar.

Senior Vice President Operation Strategy & Development Bank Central Asia Setiady mengatakan pergeseran transaksi ke kanal digital memang sangat signifikan dari sisi frekuensi, namun tidak dari sisi nilai. Transaksi bernilai besar masih banyak dilakukan di kantor cabang karena keterbatasan kanal digital.

“Tinggal di bawah 1 persen yang transaksi di cabang, 99 persen transaksi di channel-channel digital, mobile banking, SMS banking. Secara value masih besar. Nominal transaksi. Ada jumlah dan nominal. Kalau nominal masih di atas 30 persen,” kata dia dalam sesi diskusi Masa Depan Perbankan, Apakah Kantor Cabang Masih Relevan? di Mini Studio BCA Expoversary 2026, ICE BSD, Jumat (6/2/2026)

Menurut Setiady, kebutuhan layanan fisik terutama muncul pada transaksi yang bersifat kompleks dan membutuhkan pemahaman mendalam. Layanan tersebut tidak selalu dapat diselesaikan sepenuhnya melalui kanal digital.

“Uang tunai, kebutuhan warkat. Itu butuh fisik. Perlu di cabang. Selain itu transaksi kompleks. Misalkan advisori/investasi. Perlu pertemuan dengan front liner BCA agar memahami investasi itu,” kata dia.

Di tengah digitalisasi, kantor cabang juga berperan sebagai pusat kepercayaan nasabah. Keberadaan fisik bank dinilai masih penting, terutama ketika nasabah menghadapi kendala transaksi dan membutuhkan konsultasi langsung.

“Masyarakat Indonesia masih senang melihat sesuatu yang ada secara fisik,” ungkapnya.

“Bank itu bisnis kepercayaan. Yang diperlukan nasabah adalah membangun kepercayaan kepada BCA,” tambahnya.

Sejalan dengan itu, jaringan kantor cabang masih terus dikembangkan secara selektif. Jumlah kantor cabang BCA meningkat dari 1.242 unit pada 2021 menjadi sekitar 1.270 unit pada 2025. Pada tahun tersebut, perseroan membuka sekitar 20 kantor cabang baru dan jumlah pembukaan pada 2026 diperkirakan relatif serupa.

“Tahun 2025 sekitar 20-an cabang. Untuk 2026 ini lebih dari 20-an cabang. Harusnya kurang lebih mirip,” kata dia.

Perluasan jaringan tersebut diarahkan ke wilayah-wilayah yang dinilai masih minim layanan perbankan. Setiady menyebut masih banyak daerah yang belum terjangkau kantor cabang, termasuk di pulau-pulau besar.

“Kalau dilihat dari daftar kantor cabang kita, di daerah-daerah itu masih banyak sekali yang kita punya kantor cabang. Misalnya di Sulawesi, pulaunya luas sebenarnya. Banyak sekali kota yang belum punya (kantor cabang),” ucapnya.

Untuk rencana pengembangan ke depan, fokus pembukaan cabang lebih diarahkan ke Indonesia Timur. Menurut Setiady, kawasan tersebut memiliki potensi pertumbuhan ekonomi yang besar dan membutuhkan dukungan layanan perbankan yang lebih dekat.

“Yang pasti lebih banyak di Timur, Sulawesi itu potensinya berkembang sekali,” kata dia.

Meski demikian, peluang ekspansi di wilayah barat Indonesia tetap terbuka. Sejumlah daerah di Sumatera dinilai masih belum terjangkau jaringan kantor cabang secara optimal.

“Di daerah Barat masih ada peluang untuk kita buka juga. Karena sebenarnya di daerah Barat pun, seperti Sumatera Selatan dan Riau, masih banyak kota yang belum kita jangkau,” ujarnya.

Ia mencontohkan, di Sumatera Utara, kantor cabang BCA baru menjangkau Kabanjahe yang dibuka pada tahun lalu, menandakan masih luasnya ruang penetrasi layanan ke daerah-daerah lain di luar pusat ekonomi utama.

Read Entire Article
Politics | | | |