LRT Manggarai Ditargetkan Bantu Tekan Emisi Karbon dan Polusi Udara

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro mendorong agar pembangunan Stasiun Manggarai LRT Jakarta Fase 1B rute Velodrome-Manggarai menjadi salah satu upaya menekan emisi karbon dan polusi udara di wilayah perkotaan.

"Pengembangan LRT Jakarta bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga bagian dari tanggung jawab kami dalam menjaga lingkungan. Transportasi berbasis listrik menjadi solusi untuk menekan emisi dan polusi di Jakarta," kata Direktur Teknik dan Pengembangan Jakpro Dian Takdir, Sabtu (7/2/2026).

Dia menyebutkan pengembangan kawasan Manggarai sebagai pusat integrasi antarmoda merupakan langkah strategis dalam mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal berbasis listrik yang lebih ramah lingkungan. "Sehingga, tidak hanya bertujuan meningkatkan konektivitas transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menekan emisi karbon dan polusi udara," ujar Dian.

Selain itu, Stasiun Manggarai LRT Jakarta dirancang terintegrasi dengan KRL Commuter Line, Kereta Api Bandara, serta Transjakarta. Integrasi ini memudahkan masyarakat melakukan perjalanan tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi, sehingga dapat mengurangi kemacetan sekaligus polusi udara.

Dian menilai meningkatnya penggunaan transportasi publik berdampak langsung pada kualitas lingkungan hidup di Jakarta. Dengan sistem transportasi yang terhubung dan nyaman, masyarakat diharapkan lebih tertarik menggunakan moda massal untuk aktivitas sehari-hari.

"Pengoperasian LRT Jakarta berbasis listrik menjadi salah satu bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan," ucap Dian.

Secara kumulatif, pengoperasian LRT Jakarta Fase 1A dan 1B diproyeksikan mampu mengurangi emisi hingga 2.927.250 ton COâ‚‚e. Penurunan ini diperoleh dari berkurangnya penggunaan kendaraan bermotor pribadi yang selama ini menjadi salah satu penyumbang utama pencemaran udara di Jakarta.

Selain berdampak pada lingkungan, pengembangan kawasan Manggarai juga diarahkan berbasis Transit Oriented Development (TOD) yang ramah pejalan kaki dan pesepeda. Konsep tersebut mendorong pola mobilitas masyarakat yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, Dian menuturkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap agar kehadiran Stasiun Manggarai LRT Jakarta dapat menjadi contoh pengembangan transportasi modern yang sejalan dengan target Jakarta sebagai kota global yang hijau dan berdaya saing.

"Melalui integrasi antarmoda dan penggunaan energi bersih, Manggarai diproyeksikan menjadi kawasan percontohan transportasi ramah lingkungan yang mampu meningkatkan kualitas hidup warga sekaligus menjaga kelestarian lingkungan," tutur Dian.

LRT Jakarta Fase 1B melengkapi fase 1 rute Velodrome-Pegangsaan Dua, sehingga total jalur operasi yang semula 5,8 km menjadi 12,2 km dan dapat mengangkut sekitar 80 ribu penumpang secara bertahap.

Jakpro sebagai pemilik proyek LRT Jakarta menunjuk Waskita Karya sebagai kontraktor utama pembangunan LRT Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai melalui proses tender. Terkait biaya, pembangunan rute Fase 1B menelan biaya sebesar Rp 5,36 triliun, sementara Fase 2A dengan pembiayaan sebesar Rp 8,66 triliun, kemudian Fase 2B dan 3B masing-masing Rp 3,65 triliun serta Rp 4,6 triliun, yang bersumber dari Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |