Iran Siapkan Kartu Terakhir: Houthi Aktifkan Senjata yang Belum Pernah Digunakan

2 hours ago 5

Pendukung Houthi meneriakkan slogan-slogan sambil mengibarkan spanduk yang menunjukkan para pemimpin Iran yang terbunuh dalam serangan Israel, dalam unjuk rasa anti-Israel di Sanaa, Yaman, Jumat, 13 Juni 2025.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Seiring intensifikasi pergerakan militer Amerika Serikat di Timur Tengah dan kemungkinan serangan terhadap Iran yang kian nyata, kelompok Houthi Yaman tengah melakukan persiapan militer secara diam-diam. Mereka memobilisasi pejuang, mendirikan lokasi senjata baru, dan meningkatkan tingkat kewaspadaan, langkah yang mengisyaratkan peran krusial dalam konfrontasi yang mungkin terjadi.

Media China baru-baru ini mengutip seorang komandan militer Houthi yang tidak disebutkan namanya, menyebutkan bahwa kelompok tersebut telah melakukan inspeksi terhadap platform peluncuran rudal di beberapa wilayah strategis Yaman, termasuk kawasan Laut Merah.

Mobilisasi ini terjadi pada saat Houthi dipandang sebagai salah satu senjata regional terpenting Iran untuk melakukan pembalasan. Meskipun belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait posisi mereka terhadap potensi serangan AS, para pemimpin Houthi telah memperingatkan Washington agar tidak melakukan tindakan militer dan menyatakan siap menanggung konsekuensi dari setiap eskalasi.

Kartu Terakhir Iran?

Islam al-Mansi, peneliti Mesir yang mengkhususkan diri dalam urusan Iran, menilai Teheran kemungkinan akan menghindari mempertaruhkan semua kartunya kecuali benar-benar diperlukan. Hal ini terutama mengingat ancaman AS untuk meningkatkan eskalasi jika proksi militer Iran ikut campur dalam konfrontasi.

"Iran tidak menggunakan proksi militernya selama konfrontasi dengan Israel atau serangan terbatas AS musim panas lalu karena mereka tidak menganggap adanya ancaman eksistensial," kata al-Mansi kepada Asharq Al-Awsat.

Namun, perhitungan itu bisa berubah dalam konfrontasi yang diantisipasi saat ini. Al-Mansi menambahkan bahwa meskipun Iran sebelumnya menawarkan untuk meninggalkan proksi regionalnya, termasuk Houthi, dalam kerangka negosiasi, hal ini justru meningkatkan kemungkinan Teheran akan menggunakannya sebagai pembalasan.

"Iran menciptakan kelompok-kelompok ini untuk mempertahankan wilayahnya dari jauh," tegasnya.

Beberapa laporan intelijen menunjukkan bahwa Garda Revolusi Iran telah berdiskusi dengan Houthi tentang pengaktifan arena dukungan alternatif dalam potensi konfrontasi AS-Iran, termasuk penggunaan sel dan senjata yang belum pernah digunakan sebelumnya.

Ambiguitas Strategis

Beberapa pihak menafsirkan sikap Houthi saat ini sebagai upaya untuk menghindari perhatian pemerintahan Donald Trump, yang sebelumnya melancarkan kampanye militer terhadap kelompok tersebut pada musim semi tahun lalu dan menimbulkan kerugian besar.

Read Entire Article
Politics | | | |