Petugas kesehatan mengoperasikan sejumlah alat medis, termasuk fasilitas cuci darah bagi pasien penyakit ginjal.
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Komunitas Pasien Cuci Darah Provinsi Jawa Barat mengungkapkan penonaktifkan kepesertaan BPJS Kesehatan Penerima Bantuan Iuran (PBI) untuk pasien cuci darah menghambat mereka untuk berobat. Beberapa diantaranya mengalami gangguan pernapasan seperti sesak napas sehingga harus mencari dana pinjaman.
Koordinator Komunitas Pasien Cuci Darah Jawa Barat Rini YS mengatakan, jumlah anggota komunitas pasien cuci darah mencapai 150 orang. Dia menjelaskan, ada 24 orang diantaranya mengeluhkan kartu BPJS kesehatan PBI dinonaktifkan."Kemarin sekitar 24 anggota itu mengeluhkan PBInya diputus," ucap dia dikutip Sabtu (7/2/2026).
Ia mengatakan, beberapa pasien sempat mengalami sesak nafas akibat terkendala berobat cuci darah. Rini pun menyarankan agar pasien yang mengalami sesak napas untuk memilih masuk IGD terlebih dahulu. Selain itu, terdapat anggota yang terpaksa mencari dana pinjaman untuk mengaktifkan dulu ke BPJS Mandiri.
"Iya betul (menghambat) malah sudah ada yang sesak. Ada dana dari mana mengaktifkan dulu ke mandiri," kata dia.
Ia menyebut mayoritas pasien cuci darah BPJS Kesehatan PBI merupakan masyarakat kurang mampu. Mereka yang terdaftar di BPJS Kesehatan mandiri pun banyak yang menunggak karena tidak mampu bayar.
"Sambil proses bisa balik ke PBI, buat ongkos saja mikir mereka. Mereka bayar BPJS mandiri dulu. Ada juga dia terdaftar umum dan PBI, dua itu mereka juga kalau dua itu ada tunggakan di umum itu. PbI nya tetap berjalan," kata dia.
Ia mengatakan ke 24 pasien cuci darah yang diputus PBI berasal dari berbagai kalangan usia. Rini mengatakan jika diaktifkan kembali PBI maka relatif menyulitkan bagi pasien cuci darah karena harus mengantri khususnya bagi orang tua.
"Ada yang belum (urus aktivasi), ada yang masih diurus ngurus SKTM surat keterangan tidak mampu ke RT RW proses berjenjang,"ungkap dia.

2 hours ago
5















































