Pola Makan Mediterania Dikaitkan dengan Penurunan Risiko Stroke pada Perempuan

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pola makan Mediterania dikaitkan dengan risiko stroke yang lebih rendah pada perempuan, terutama seiring bertambahnya usia dan setelah memasuki masa menopause. Hal tersebut terungkap dalam studi jangka panjang terbaru yang dipublikasikan dalam Neurology Open Access, jurnal milik American Academy of Neurology.

Dilansir dari CNN, Sabtu (7/2/2026), stroke masih menjadi salah satu penyebab utama kematian pada perempuan. Data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebutkan, satu dari lima perempuan berusia 55 hingga 75 tahun di AS berisiko mengalami stroke.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa penerapan pola makan Mediterania dapat menurunkan risiko tersebut. Pola makan ini menekankan konsumsi sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, minyak zaitun, ikan, serta membatasi daging dan produk susu, dengan konsumsi alkohol dalam jumlah sedang.

Dalam penelitian ini, para peneliti mengikuti lebih dari 105 ribu perempuan peserta California Teachers Study yang dimulai sejak 1995. Seluruh partisipan merupakan guru, administrator sekolah negeri, atau anggota sistem dana pensiun guru di California, dengan rentang usia awal 38 hingga 67 tahun.

Pada awal penelitian, para peserta mengisi kuesioner terperinci mengenai kebiasaan makan dan porsi konsumsi selama satu tahun sebelumnya. Berdasarkan data tersebut, peneliti menilai sejauh mana setiap peserta mematuhi pola makan Mediterania menggunakan sistem penilaian sembilan poin. Skor lebih tinggi menunjukkan kepatuhan yang lebih baik terhadap pola makan tersebut.

Setelah masa pemantauan rata-rata selama 20,5 tahun, peneliti menemukan bahwa perempuan yang konsisten menerapkan pola makan Mediterania memiliki risiko lebih rendah terhadap semua jenis stroke. Secara rinci, risiko stroke secara keseluruhan menurun sebesar 18 persen, dengan penurunan 16 persen untuk stroke iskemik (yang disebabkan oleh tersumbatnya aliran darah ke otak) serta penurunan hingga 25 persen untuk stroke hemoragik akibat perdarahan di otak.

Temuan ini memperkuat bukti ilmiah sebelumnya yang menunjukkan manfaat pola makan Mediterania dalam menurunkan risiko berbagai penyakit, termasuk demensia, penyakit gusi, depresi, kanker payudara, dan diabetes.

“Kami telah lama mengetahui bahwa pola makan ini termasuk jenis diet yang lebih sehat,” kata ahli jantung preventif Dr Andrew Freeman, Direktur Pencegahan dan Kesehatan Kardiovaskular di National Jewish Health, Denver, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut. Ia menambahkan, banyak ahli jantung mengacu pada studi PREDIMED yang menunjukkan penurunan kejadian penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular, dengan manfaat terbesar pada pencegahan stroke.

Salah satu temuan yang dinilai mengejutkan adalah penurunan risiko stroke hemoragik. Penulis senior studi, Dr Sophia Wang, menyebut selama ini faktor gaya hidup lebih banyak dikaitkan dengan penurunan risiko stroke iskemik, sementara dampak pola makan terhadap stroke hemoragik jarang dilaporkan. Wang merupakan profesor di divisi analitik kesehatan City of Hope, lembaga riset dan perawatan kanker serta diabetes di AS.

Menurut Wang, temuan ini sangat relevan bagi perempuan yang memasuki usia menopause. “Risiko stroke pada perempuan meningkat saat menopause dan tetap tinggi setelahnya. Studi kami menunjukkan bahwa ada langkah yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko tersebut, salah satunya dengan menjalani pola makan sehat seperti diet Mediterania,” ujarnya.

Meski demikian, peneliti mengakui adanya keterbatasan studi, antara lain tidak dilakukannya pemantauan perubahan pola makan peserta selama periode penelitian. Kendati demikian, para ahli menilai hasil studi ini semakin memperkuat bukti bahwa pola makan berbasis nabati dan makanan utuh berperan penting dalam mencegah berbagai penyakit, khususnya penyakit jantung dan pembuluh darah.

Read Entire Article
Politics | | | |