REPUBLIKA.CO.ID, SURAKARTA - Penanganan Tuberkulosis (TBC) tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan mengonsumsi obat setiap hari. Pasien kerap menghadapi rasa lelah, kejenuhan, serta kebingungan mengenai pihak yang harus dihubungi atau tempat melakukan kontrol kesehatan.
Tidak sedikit pasien yang pada akhirnya merasa menjalani proses pengobatan seorang diri, padahal pengobatan TBC memerlukan pendampingan yang konsisten serta pemantauan yang berkelanjutan.
Dari kebutuhan itulah, SITUBA Tuberculosis Assistant hadir sebagai pendamping digital bagi pasien TBC di Surakarta. Platform berbasis website ini dirancang untuk mempercepat pendataan, meningkatkan akurasi laporan, sekaligus memantau perjalanan pengobatan pasien agar tindak lanjut bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.
SITUBA dikembangkan oleh dosen-dosen dari UBSI (Universitas Bina Sarana Informatika) kampus Solo yang terdiri dari Candra Agustina, Sardiarinto, Supriyanta, Eka Rahmawati, dan Wawan Nugroho. Sistem ini dibuat untuk menyatukan alur pelaporan TBC, mulai dari kader di lapangan, kelurahan, puskesmas, hingga pemerintah daerah dalam satu sistem real-time.
Wawan mengungkapkan SITUBA hadir agar pasien TBC tidak merasa berjuang sendirian. Semua proses dari deteksi, pemantauan, sampai pendampingan pengobatan bisa terhubung dalam satu sistem.
"Lewat berbagai fitur unggulan, SITUBA memudahkan proses skrining lapangan, pendampingan minum obat, pengelolaan data pasien dan keluarga, hingga penyajian informasi dan edukasi seputar TBC. Sistem dashboard multi-role juga memungkinkan setiap pihak, dari kader hingga Pemda, memantau perkembangan kasus sesuai perannya masing-masing," kata Wawan dalam keterangan pers, Selasa (20/1/2026).
Ia menambahkan, uji coba internal menunjukkan respons positif dari berbagai pihak.
“Instansi merasa terbantu karena data jadi terintegrasi dan tidak perlu laporan berulang. Kader juga merasakan skrining lebih cepat dan terarah, sementara pasien terbantu dengan pengingat kontrol dan akses edukasi,” kata dia.
Platform ini sudah resmi diluncurkan sebagai inovasi digital pendamping pasien TBC. Ke depan, SITUBA diharapkan bisa digunakan lebih luas dan berkontribusi dalam mempercepat penanganan TBC di Surakarta. UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif, hadir secara nyata di masyarakat dalam pengembangan dan penerapan teknologi.

2 weeks ago
11















































