REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melanjutkan tren pelemahan pada akhir pekan ini. Mata uang Garuda ditutup berada di posisi Rp 16.876 per dolar AS.
Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 30 poin atau 0,20 persen menuju level Rp 16.876 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (6/2/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 16.842 per dolar AS.
“Lembaga pemeringkat, Moody’s Ratings menurunkan rating outlook atau prediksi utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski peringkat utang Indonesia dipertahankan di level layak investasi alias investment grade. Perubahan ini mencerminkan kebijakan yang makin sulit ditebak, kekhawatiran terhadap tata kelola, dan meningkatnya ketidakpastian yang bisa mempengaruhi kepercayaan investor,” kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, dikutip Sabtu (7/2/2026).
Ibrahim menuturkan, apabila kondisi tersebut terus berlanjut, Moody’s memperkirakan akan menggerus kepercayaan terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama dibangun. Meski begitu, Moody’s tetap mempertahankan rating Indonesia di Baa2. Artinya, Indonesia masih tergolong dalam kelompok investment grade.
“Penurunan rating ini menambah deretan peringatan terhadap meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan melemahnya tata kelola pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Moody’s juga menyoroti tantangan yang dihadapi pemerintahan Prabowo dalam upaya memulihkan kepercayaan pasar dan mencegah aksi jual besar-besaran aset Indonesia,” lanjutnya.
Selain itu, Ibrahim berpendapat, sentimen internal lainnya yang memengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah yakni data terbaru Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan.
“Posisi cadangan devisa Indonesia menurun pada Januari 2026, mencapai 154,6 miliar dolar AS, atau lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai 156,5 miliar dolar AS. Penurunan ini dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons BI dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat,” terangnya.
Meski turun, cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik, didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik. BI juga terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Sementara itu, terdapat sejumlah sentimen eksternal yang turut memengaruhi pergerakan rupiah pada akhir pekan ini, mulai dari kondisi geopolitik, dinamika perpolitikan AS, hingga data ketenagakerjaan AS.
“Para pejabat AS dan Iran dijadwalkan bertemu di Oman pada Jumat sore di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah, setelah Washington mengerahkan setidaknya dua armada angkatan laut di wilayah tersebut. Pasar berharap bahwa pembicaraan antara Teheran dan Washington akan membantu meredakan beberapa ketegangan dan mencegah perang yang lebih luas,” ujarnya.
Namun, lanjut Ibrahim, AS dan Iran terlihat berbeda pendapat mengenai subjek pembicaraan Jumat, dengan Iran menolak seruan AS untuk membahas persenjataan rudalnya dan menyatakan bahwa diskusi hanya akan terbatas pada pembahasan ambisi nuklir Teheran. Iran merupakan produsen minyak utama dan terletak di sebelah Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia untuk minyak mentah.
“Selain itu, data pemutusan hubungan kerja Challenger menunjukkan perusahaan-perusahaan AS memangkas jumlah karyawan pada bulan Januari dengan laju tercepat sejak resesi besar tahun 2009. Data lain menunjukkan peningkatan klaim pengangguran mingguan yang lebih besar dari perkiraan, sementara data lowongan kerja untuk bulan Desember juga di bawah ekspektasi,” jelasnya.
Pasar tenaga kerja yang mendingin memberi The Fed lebih banyak dorongan untuk memangkas suku bunga, dengan dolar berada di bawah tekanan akibat hal ini. Namun, pasar juga tidak yakin terhadap arah kebijakan moneter AS di bawah Warsh. Mantan gubernur The Fed ini dipandang sebagai pilihan yang kurang dovish untuk peran puncak The Fed.
“(Diprediksi) untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.870—Rp 16.920. Range untuk minggu depan Rp 16.750—Rp 17.200 per dolar AS,” tutup Ibrahim.

2 hours ago
3















































