Demi Bisa Sekolah, Gibran Rela Jalan Kaki Berkilo-kilo dan Mendaki Bukit Terjal dan Licin

4 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Keceriaan dan semangat siswa SDN Giriasih, Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat tidak luluh meski mereka harus berjalan kaki hingga mendaki dan menuruni bukit untuk pergi dan pulang sekolah.

SDN Giriasih berada di pegunungan yang cukup sulit dijangkau sehingga bukan perkara mudah bagi para siswa untuk bersekolah. Namun semangat mereka tetap membara meski harus berjalan kaki dengan sepanjang 2 kilometer lebih dengan kontur jalan setapak nan terjal.

Pada Selasa (12/5/2026) Republika berkesempatan mengunjungi langsung SDN Giriasih dan bertemu dengan para siswa. Perjalanan dimulai dari Koramil Cililin menggunakan sepeda motor dengan menelusuri jalur pegunungan berukuran dua meter yang sudah dilapisi aspal seadanya.

Kondisi geometrik jalan berada pada kawasan perbukitan dan tebing dengan kelandaian yang sangat curam, tikungan tajam, badan jalan sempit, serta berbatasan langsung dengan jurang. Namun, itu bukan jalan satu-satunya yang biasa dilewati siswa. Masih ada jalan lain yang masih berupa tanah yang mereka pilih untuk sedikit memangkas jarak dan waktu.

Lengah sedikit saja jurang menanti. Setelah sekitar 2,6 kilometer menempuh perjalanan, akhirnya sampai di SDN Giriasih yang lokasinya cukup terpencil dan berasa di atas pegunungan. Semangat menimba ilmu siswanya terlihat dari senyum tulus kala menyambut dijumpai di ruang kelas.

Muhammad Al Gibran (9 tahun) siswa kelas 3 yang setiap harinya pergi dan pulang ke sekolah dengan berjalan kaki dengan menaiki dan menuruni jalanan setapak bersama teman-temannya. Ia biasanya dari rumahnya di Kampung Gabus Hilir, Desa Batulayang, Kecamatan Cililin.

"Kalau berangkat dari rumah jam 6, sampai jam 06.30 pas jam masuk. Rumahnya lumayan jauh, harus nanjak juga. Kalau ke kampungnya masih tanah jalannya," tutur Gibran.

Tentu bukan hal mudah bagi Gibran dan siswa lainnya. Tantangan dan risiko pun mengintai mereka kala cuaca sedang ekstrem. Jalanan menjadi licin, ancaman longsor menutup jalan hingga pohon tumbang. Sehingga demi keamanan terkadang mereka tak pergi ke sekolah dan diizinkan belajar secara daring.

"Pernah, kalau hujan enggak reda jadinya enggak masuk sekolah. Sama gurunya juga enggak apa-apa. Kalau hujan jalannya licin," kata Gibran.

Read Entire Article
Politics | | | |