REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ramadhan selalu datang seperti tamu agung yang mengetuk dengan cahaya. Dan di rumah kenabian, ia disambut bukan dengan kemewahan, melainkan dengan kesungguhan. Pada bulan itulah kehidupan Muhammad ﷺ berubah ritmenya, lebih hening, lebih dalam, lebih bercahaya. Seakan waktu sendiri melambat agar jiwa-jiwa dapat mendekat.
Dalam lembar-lembar As-Sīrah an-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam, Ramadhan bukan hanya bulan ibadah personal, tetapi juga bulan peristiwa besar. Di bulan inilah terjadi Perang Badar, sebuah momentum yang menunjukkan bahwa puasa tidak melemahkan ruh perjuangan. Justru di tengah lapar dan dahaga, Nabi ﷺ memimpin dengan keteguhan, memadukan doa yang panjang dengan strategi yang matang. Ramadhan, dalam sirah, adalah bulan spiritualitas yang melahirkan keberanian.
Perang Badar bukan sekadar pertempuran fisik; ia adalah ujian keimanan kolektif. Pasukan Muslim yang berjumlah sekitar tiga ratus lebih sedikit harus menghadapi kekuatan Quraisy yang jauh lebih besar. Namun di padang pasir Badar, yang menentukan bukan jumlah, melainkan keyakinan. Dalam riwayat-riwayat hadis sahih yang dihimpun oleh Al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj, disebutkan bagaimana Nabi ﷺ berdoa dengan penuh harap pada malam sebelum pertempuran, mengangkat tangan hingga selendangnya terjatuh dari pundaknya. Doa itu bukan tanda kelemahan, melainkan puncak keberanian: keberanian untuk bersandar sepenuhnya kepada Allah.
Heroisme Badar lahir dari pertemuan antara lapar jasmani dan kenyang ruhani. Puasa mendidik jiwa untuk menahan diri, menundukkan ego, dan menguatkan disiplin batin. Di Badar, pelajaran itu menjelma daya tahan luar biasa. Seorang yang telah menaklukkan nafsunya lebih siap menghadapi musuhnya. Karena itu, kemenangan di Badar bukan hanya kemenangan strategi, melainkan kemenangan spiritual. Ia terus dikenang hingga kini karena di sanalah tampak bahwa pertolongan Allah turun ketika iman dan ikhtiar bertemu dalam satu garis lurus.
Badar juga memperlihatkan bahwa Ramadhan bukan bulan eskapisme. Ia bukan pelarian dari realitas, tetapi penguatan menghadapi realitas. Di tengah kekhusyukan puasa, kaum Muslim tidak menjadi lemah; justru mereka menemukan pusat gravitasinya. Heroisme Badar dan puasa Ramadhan bertaut seperti akar dan batang: puasa menumbuhkan keteguhan batin, dan keteguhan itu berbuah keberanian di medan ujian. Itulah sebabnya Badar selalu dikenang, bukan sekadar sebagai perang pertama, tetapi sebagai simbol bahwa spiritualitas sejati melahirkan daya juang yang bersih dari kesombongan.
Namun jika kita masuk lebih dalam ke ruang-ruang malam Ramadhan, kita menemukan wajah yang lebih sunyi. Dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Malaikat Jibril menemuinya untuk mengulang dan menelaah Al-Qur’an. Setiap malam, wahyu dibacakan, disimakkan, direnungkan. Ramadhan menjadi musim murajaah, sebuah dialog langit dan bumi yang berulang di ruang kecil, namun menggema hingga ke arasy.

2 hours ago
3














































