REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Api itu menjulang seperti amarah yang menemukan kayu bakarnya. Di tengah kerumunan kaumnya yang murka, seorang hamba berdiri tenang, bukan karena ia tak tahu panas, tetapi karena ia mengenal Tuhan yang menguasai panas.
Dialah Ibrahim, yang ketika dilempar ke dalam kobaran api oleh Namrud, lisannya tidak menjerit meminta selain kepada Yang Maha Menggenggam. Dari bibirnya mengalir kalimat yang kelak menjadi warisan keberanian bagi umat beriman:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Hasbunallāhu wa ni‘mal-wakīl
“Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung.”
Kisah ini dituturkan dalam tafsir klasik seperti Jāmi‘ al-Bayān karya At-Tabari dan Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm karya Ibnu Katsir, yang meriwayatkan bahwa ketika malaikat Jibril menawarkan pertolongan, Ibrahim menjawab bahwa Allah cukup baginya.
Api yang membakar berubah menjadi taman kesejukan. Bara menjadi bunga. Panas menjadi pelukan. Sebab ketika seorang hamba bersandar total, hukum alam pun tunduk pada kehendak Rabb-nya.
Kalimat yang sama diabadikan dalam Al-Qur'an (QS. Āli ‘Imrān: 173), saat kaum mukmin diancam musuh:
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“…Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung.”
Rasulullah ﷺ sendiri menegaskan dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari bahwa kalimat ini diucapkan oleh Ibrahim ketika dilempar ke api, dan juga diucapkan oleh Nabi Muhammad ﷺ ketika menghadapi ancaman musuh.
Dalam sirah yang ditulis oleh Ibnu Hisyam melalui karya As-Sīrah an-Nabawiyyah, diceritakan bahwa selepas Perang Uhud, ketika kabar ancaman Quraisy sampai kepada beliau, Nabi tidak larut dalam gentar; beliau mengucapkan kalimat tawakal itu, sebuah deklarasi bahwa sandaran tertinggi bukanlah perisai, bukan pula pasukan, melainkan Allah.
Makna hasbunallah bukan sekadar “Allah cukup.” Ia adalah revolusi batin. Kata hasb berarti kecukupan yang menutup segala kekurangan. Seakan seorang hamba berkata: “Ya Allah, Engkau mengisi ruang-ruang kosongku; Engkau mengganti segala yang hilang.”
Adapun al-wakīl adalah tempat berserah total, wakil yang mengurus tanpa lalai, melindungi tanpa lelah. Dalam dimensi tauhid, kalimat ini menata ulang orientasi jiwa: dari ketergantungan pada sebab menuju keyakinan pada Musabbib al-Asbāb (penyebab segala sebab).

2 hours ago
3














































