Pengurus masjid menunjukkan sajian Bubur Peca untuk berbuka puasa di Masjid Shiratal Mustaqiem di Samarinda Seberang, Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (21/2/2026). Pengurus masjid membagikan sedikitnya 300 porsi Bubur Peca setiap harinya selama bulan Ramadhan kepada warga sebagai upaya melestarikan tradisi makanan khas Kampung Masjid Samarinda Seberang yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional, dan diwariskan turun-temurun sekitar 100 tahun lalu. (FOTO : ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)
Bubur Peca biasanya disantap hangat, kadang langsung di masjid saat berbuka puasa. Bubur Peca dibagikan secara gotong-royong oleh pengurus masjid, menjadi momen sosial sekaligus kuliner. Selain untuk berbuka, bubur ini juga melambangkan keberlanjutan tradisi dan rasa kebersamaan di masyarakat Samarinda Seberang. (FOTO : ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)
Bubur Peca disajikan dalam mangkuk kecil atau piring cetakan. Warnanya cokelat kemerahan dari gula merah yang dimasak bersama santan. Teksturnya lembut, agak kental, tidak terlalu cair seperti bubur biasa. Terkadang diberi taburan kelapa parut, potongan kacang, atau biji-bijian lokal untuk menambah rasa dan tekstur. (FOTO : ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)
REPUBLIKA.CO.ID, SAMARINDA -- Pengurus masjid menyajikan Bubur Peca untuk berbuka puasa di Masjid Shiratal Mustaqiem di Samarinda Seberang, Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (21/2/2026).
Pengurus masjid membagikan sedikitnya 300 porsi Bubur Peca setiap harinya selama bulan Ramadhan kepada warga sebagai upaya melestarikan tradisi makanan khas Kampung Masjid Samarinda Seberang yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional, dan diwariskan turun-temurun sekitar 100 tahun lalu.
sumber : Antara Foto

2 hours ago
3














































