Ayat-ayat Ini Membuat Namamu Disebut di Hadapan Langit

3 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah riuh dunia yang tak pernah benar-benar diam, ayat-ayat itu datang seperti fajar yang menyibakkan kabut: memanggil kita untuk menyebut-Nya agar kita disebut, mengingat-Nya agar hati menemukan pelabuhan, dan menautkan kerja dengan kesadaran yang tak putus.

Dari janji lembut dalam Alquran 2:152 hingga ketenteraman yang ditegaskan pada 13:28, dari perintah dzikir yang berlimpah di 33:41–42 hingga harmoni dzikir dan tafakkur di 3:191 serta irama amal di 62:10, semuanya mengalir menuju satu samudera makna: bahwa hidup hanya menemukan nadinya ketika nama Allah berdenyut di dalamnya. Inilah undangan sunyi namun agung, untuk menjadikan setiap detak jantung sebagai tasbih, setiap langkah sebagai ingatan, dan setiap hela napas sebagai kepulangan.

Berikut lima ayat Alquran yang menggetarkan jiwa dan mengajak kita memperbanyak dzikir. Saya susun mengalir, dari panggilan lembut, janji kehadiran Ilahi, hingga gambaran hati yang lapang, dengan rujukan pemaknaan dari Tafsir al-Kabir (Mafâtîh al-Ghayb) karya Fakhruddin ar-Razi.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Fażkurūnī ażkurkum waškurū lī wa lā takfurūn.

“Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat-Ku).”

Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatihul Ghayb menyoroti keagungan janji timbal-balik dalam ayat ini: ketika hamba menyebut-Nya, Allah “menyebut” hamba itu, yakni melimpahkan perhatian, rahmat, dan pertolongan. Dzikir bukan sekadar gerak lisan; ia adalah jembatan antara kefanaan dan Keabadian.

Menurut ar-Razi, “mengingat” dari sisi Allah adalah bentuk pemuliaan dan penjagaan. Maka setiap tasbih yang bergetar di dada laksana mengetuk pintu langit; dan pintu itu dibukakan dengan balasan yang lebih luas daripada yang kita sangka.

Ayat ini mengajarkan irama: dzikir dan syukur berjalin seperti dua sayap. Tanpa syukur, dzikir menjadi kering; tanpa dzikir, syukur kehilangan akar. Di sini, hati diajak untuk hidup dalam dialog yang tak pernah putus.

Alquran 13:28

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Allażīna āmanū wa taṭma’innu qulūbuhum biżikrillāh. Alā biżikrillāhi taṭma’innul-qulūb.

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Ar-Razi memaparkan bahwa ketenteraman (ṭuma’nīnah) adalah ketetapan hati pada kebenaran yang diyakini. Dzikir menyingkap tabir kegelisahan, ia seperti embun yang menenangkan bara. Ketika hati mengenal sumber segala sebab, ia tak lagi terombang-ambing oleh sebab-sebab itu.

Dalam tafsirnya, ar-Razi menekankan bahwa “hanya dengan dzikir” menunjukkan eksklusivitas: ketenangan sejati tidak bersandar pada harta, pujian, atau kuasa, melainkan pada kehadiran Allah di ruang batin. Seperti laut yang tenang di kedalaman meski ombak bergemuruh di permukaan, demikianlah hati yang berdzikir.

Read Entire Article
Politics | | | |