REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pendakwah kondang lulusan Al Azhar University, Ustadz Abdul Somad (UAS)menjelaskan tanda-tanda puasa seseorang diterima Allah SWT serta tujuan utama ibadah Ramadhan yang sejatinya membentuk ketakwaan dan perubahan diri secara nyata.
UAS menegaskan bahwa indikator utamanya adalah perubahan sikap dan akhlak.
“Tanda ibadah itu diterima ada perubahan, yang sebelumnya pelit menjadi orang yang dermawan. Karena, dia sudah tahu hakikat hawa nafsu. Sebelumnya mungkin emosinya tidak terkendali, tapi sekarang menjadi orang yang sangat bijaksana. Jika sebelumnya menjadi orang yang kasar, sekarang lidahnya menjadi sangat lembut sopan santun, berbudi bahasa, tatakrama, dan berakhlakul karimah,” jelas UAS dalam wawancara khusus bersama Republika.co.id.
Menurutnya, perubahan itu juga tampak dalam hubungan seorang Muslim dengan masjid. Jika sebelumnya kurang peduli terhadap rumah ibadah, maka setelah menjalani Ramadhan ia menjadi pribadi yang hatinya terpaut dengan masjid.
Begitu juga dengan membiasakan diri memakmurkan masjid, subuhnya berjamaah, membiasakan diri bangunan malam dengan bersahur, membiasakan diri sholat tarawih, membiasakan tepat waktu. Jadi, Ramadhan bukan bulan penumpukan amal, tapi bulan pembiasaan diri secara fisik dan mental.
“Lalu jika sebelumnya sangat tidak peduli kepada masjid. Setelah berpuasa, dia menjadi orang yang hatinya tergantung di masjid. Belum masuk waktu sholat dia sudah menyiapkan diri karena pendidikan madrasah Ramadhan,” katanya.
Selain itu, UAS juga menjelaskan bahwa setiap ibadah dalam Islam memiliki tujuan yang jelas, termasuk puasa Ramadhan. Ia mengutip firman Allah SWT dalam Alquran:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS Al-Baqarah 183).
Menurutnya, tujuan akhir dari puasa adalah agar seorang Muslim mencapai derajat takwa kepada Allah SWT.
“Semua ritual dalam Islam itu ada tujuannya. Tujuan dari puasa di akhir ayat itu adalah supaya bertakwa kepada Allah, dan itu terwujud di bulan Ramadhan,” ucapnya.
Ia memaparkan, suasana Ramadhan melatih umat Islam untuk menahan diri dari berbagai hal yang dilarang. “Takut makan, takut minum, takut berhubungan kelamin, takut bicara aib orang, takut buat maksiat, takut mata jelalatan, takut melangkahkan kaki ke tempat yang haram, takut memikirkan yang tidak diridhai Allah, itu semua terasa pada saat bulan Ramadhan,” katanya.
Tak hanya menahan diri, menurut UAS, Ramadhan juga menjadi momentum pembiasaan ibadah dan kedisiplinan spiritual. Mulai dari membiasakan shalat Subuh berjamaah, bangun malam untuk sahur, melaksanakan shalat tarawih, hingga menjaga ketepatan waktu.
“Jadi, Ramadhan bukan bulan penumpukan amal, tapi bulan pembiasaan diri secara fisik dan mental,” ujar UAS.

3 hours ago
4














































