Ramadhan dan Radar Sosial

4 hours ago 8

Oleh: Ahmad Juwaini, Praktisi Lembaga Filantropi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ramadhan adalah bulan istimewa, di mana setiap Muslim diajak untuk banyak beribadah dan melakukan kebaikan. Salah satu bentuk ibadah atau kebaikan yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan adalah banyak melakukan sedekah, zakat, dan wakaf.

Semua bentuk pengeluaran harta untuk kebaikan ini adalah ekspresi dari kedermawanan seorang Muslim. Setiap Muslim diharapkan lebih dermawan pada bulan Ramadhan.

Rasulullah SAW sebagai teladan terbaik seorang Muslim telah mencontohkan menjadi orang yang sangat dermawan dalam bulan Ramadhan. Dalam salah satu hadits dinyatakan : “Rasulullah SAW adalah orang paling dermawan di antara manusia lainnya, dan ia semakin dermawan saat berada di bulan Ramadhan…,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berbagai bentuk kedermawanan yang dianjurkan di bulan Ramadhan antara lain memberikan makanan untuk berbuka kepada keluarga miskin, bersedekah untuk anak yatim, memberikan modal kerja untuk pengemis, berwakaf untuk pembangunan masjid, dan membayar zakat fitrah di akhir Ramadhan.

Semakin menguatnya kedermawanan seorang Muslim saat Ramadhan adalah karena di bulan ini setiap Muslim menjalani puasa. Puasa juga menjadi pelatihan bagi seorang Muslim merasakan lapar dan haus dari Subuh sampai Maghrib.

Pendidikan dalam bentuk rasa lapar dan haus ini diharapkan menumbuhkan empati terhadap mereka yang miskin. Rasa lapar dan haus yang dirasakan selama puasa Ramadhan akan menumbuhkan kepedulian kepada mereka yang kekurangan dan menderita.

Radar Sosial Pribadi

Radar sosial adalah kesadaran dan kewaspadaan yang dimiliki individu atau kelompok masyarakat untuk peduli dan menolong terhadap mereka yang membutuhkan atau kekurangan.

Merujuk Goleman (ahli psikologi internasional), radar sosial adalah bagian dari kecerdasan emosional yang dimiliki seseorang. Faktor utama dari radar sosial adalah empati dan keterpanggilan untuk menolong orang lain.

Pribadi yang terbentuk radar sosial di dalam dirinya akan menampilkan rasa iba melihat mereka yang menderita dan memunculkan keinginan untuk membantu.

Radar sosial akan memunculkan pemahaman mendalam atas penderitaan yang dialami orang lain dan keinginan untuk segera mengurangi penderitaan tersebut.

Bahkan lebih jauh dari sekadar memahami, radar sosial memiliki rasa ingin tahu yang besar untuk memastikan tentang penderitaan orang lain dan perlunya orang lain dibantu.

Radar sosial melahirkan dorongan melakukan deteksi awal terhadap potensi terjadinya kesulitan atau penderitaan yang dialami orang lain sehingga memunculkan dorongan untuk membantu.

Pribadi yang memiliki radar sosial akan sensitif melihat ekspresi wajah, gerakan tangan, dan bahasa tubuh lainnya yang menyiratkan pesan bahwa orang lain perlu dibantu.

Perilaku pribadi yang memiliki radar sosial itu seperti riwayat tentang Rasulullah SAW yang sering dihina dan diludahi oleh wanita tua.

Ketika pada suatu hari Rasulullah melintas di tempat biasa diludahi dan saat itu tidak diludahi, Rasulullah bertanya dan mencari informasi tentang wanita tua tersebut. Ketika Rasulullah mengetahui wanita itu sedang sakit, maka beliau menjenguk dan membawakannya makanan.

Keberadaan pribadi-pribadi yang di dalam dirinya memiliki radar sosial sangat diperlukan untuk membantu kehidupan orang miskin dan orang yang kekurangan lainnya.

Radar Sosial Masyarakat

Dalam konteks masyarakat, radar sosial tidak cukup diserahkan kepada individu-individu yang baik hati tetapi harus diwujudkan dalam suatu infrastruktur sosial.

Di lingkungan masyarakat Indonesia radar sosial itu harus direpresentasikan oleh organ pemerintah paling bawah yaitu Rukun Tetangga (RT) dan entitas keagamaan paling dekat ke masyarakat yaitu masjid (rumah ibadah).

Jadi RT dan masjid adalah representasi masyarakat untuk mendeteksi dan mengatasi masalah sosial yang paling duluan. Mereka harus senantiasa memperhatikan warga atau jamaahnya.

Apabila ada warganya atau jamaahnya kesulitan memenuhi kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar, RT atau masjid adalah pihak pertama yang harus segera memberikan respons penanganan atau memberikan bantuan.

Respons itu bisa berbentuk memberikan informasi tempat mendapatkan bantuan, mencarikan bantuan, atau memberikan bantuan (apabila ada persediaan dana sosial yang dikelola).

Apabila ada orang yang benar-benar kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya, dia harus pergi ke RT atau masjid terdekat. Sehingga tidak ada lagi warga atau jamaah, hanya karena tak ada uang untuk makan, beli alat tulis, atau keperluan pokok lainnya, bunuh diri.

Setiap warga dan jamaah harus tahu ada tempat untuk meminta pertolongan untuk alasan keperluan pokok atau mendesak yaitu ke RT atau masjid. Di sinilah pentingnya RT dan masjid punya dana sosial cadangan yang dikelola. Dana sosial ini minimal diperlukan untuk mengatasi keperluan darurat warga atau jamaah.

Kalau memang RT dan masjid sama sekali tidak punya dana sosial cadangan, karena semua warga atau jamaah di lingkungannya miskin, maka dana sosial ini bisa dibantu dari daerah lain yang punya surplus dana sosial. Di sinilah pentingnya pengelolaan dana sosial yang baik dan merata dalam lingkup organ pemerintah dan entitas keagamaan.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |