REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Serangan balasan Iran terhadap fasilitas nuklir Dimona pada 21 Maret 2026 tidak hanya melukai wilayah udara Israel, tetapi secara fundamental mengguncang asumsi geopolitik yang telah bertahan selama dua dekade terakhir.
Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi konflik yang memasuki pekan keempat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran di Natanz pada hari yang sama
Dalam operasi yang disebut sebagai "True Promise 4", Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara berlapis-lapis yang selama ini dianggap sebagai salah satu yang tercanggih di dunia, gabungan dari Iron Dome, David's Sling, Arrow, dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) Amerika Serikat, dengan menggunakan kombinasi rudal hipersonik, rudal balistik jarak menengah, dan pesawat nirawak berbiaya rendah .
Peristiwa ini bukan sekadar eskalasi taktis, melainkan momen yang menandai kerentanan struktural doktrin pertahanan Barat. Analis militer dan pakar hubungan internasional menyebutnya sebagai "kerusakan reputasi brutal" bagi Amerika Serikat dan Israel, karena untuk pertama kalinya sistem pertahanan generasi sebelumnya, yang dirancang untuk menghadapi ancaman abad ke-20, terbukti tidak mampu mengimbangi inovasi ofensif abad ke-21 yang diusung Iran.
Kegagalan ini memicu pertanyaan mendasar tentang efektivitas pengeluaran miliardolar untuk sistem seperti Patriot dan THAAD, sekaligus mengangkat status Iran sebagai kekuatan militer yang kredibel di mata pembeli senjata global.
Iron Dome adalah sistem pertahanan jarak pendek yang dikembangkan Israel secara khusus untuk mengatasi ancaman roket dan mortir non-presisi dengan jangkauan 4 hingga 70 kilometer, seperti yang kerap diluncurkan dari Jalur Gaza. Sistem ini bekerja dengan mendeteksi lintasan proyektil dan hanya mencegat yang diprediksi akan menghantam area berpenduduk, menggunakan prinsip efisiensi biaya operasional.
Namun, pakar ilmu politik Dr. Simon Tsipis menekankan bahwa sistem ini tidak dirancang untuk menghadapi rudal balistik jarak menengah yang terbang dengan lintasan tinggi dan kecepatan hipersonik, sebagaimana diberitakan Sputnik pada Ahad (22/3/2026).
Dalam serangan Iran terhadap Dimona, Iron Dome terbukti tidak relevan karena cakupan ketinggiannya yang terbatas, membiarkan rudal Iran melaju ke target strategis tanpa hambatan berarti dari lapisan pertahanan terbawah ini.
Berada di lapisan menengah, David's Sling dirancang untuk mengisi celah antara Iron Dome dan sistem Arrow. Sistem ini ditujukan untuk mencegat roket artileri berat, rudal jelajah, serta pesawat tak berawak dengan jangkauan 40 hingga 300 kilometer. Meskipun lebih canggih, para analis menyebut bahwa sistem ini kewalahan menghadapi taktik saturasi yang digunakan Iran.
Negara yang kini dipimpin Supreme Leader Mojtaba Khamenei ini meluncurkan gelombang drone dan rudal kaliber rendah secara serempak, yang bertindak sebagai umpan untuk menghabiskan amunisi pencegat David's Sling yang terbatas dan mahal, menciptakan koridor aman bagi rudal utama yang membawa hulu ledak lebih berat.
sumber : Antara

1 hour ago
4
















































