Dari Homo Economicus ke Homo Fitrah: Mengembalikan Arah, Menyempurnakan Peran

3 hours ago 8

Oleh: Achmad Tshofawie, Kordinator ECOFITRAH; Keluarga ICMI dan FKPPI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di sebuah pasar modern yang berkilau—grafik naik-turun, algoritma berdetak, dan manusia berlari di antara angka—ada satu pertanyaan sunyi yang jarang terdengar: untuk siapa semua ini dilakukan? Kita hidup dalam zaman di mana efisiensi menjadi mantra, rasionalitas menjadi ukuran, dan keuntungan menjadi tujuan. 

Dalam lanskap ini, manusia sering direduksi menjadi satu sosok: makhluk rasional yang mengejar kepuasan maksimum dengan sumber daya terbatas—itulah Homo Economicus.

Namun, di kedalaman jiwa manusia, ada suara lain yang tak kalah kuat: dorongan untuk memberi tanpa pamrih, bekerja tanpa pamer, dan berbuat baik tanpa kalkulasi. Suara ini berasal dari fitrah—dari kesadaran bahwa hidup bukan sekadar transaksi, melainkan amanah. Inilah Homo Fitrah. Pertanyaannya menjadi tajam: di antara Homo Economicus dan Homo Fitrah, siapa yang masih bisa ikhlas?

Homo Economicus — Manusia sebagai Mesin Kalkulasi

Konsep Homo Economicus bukan sekadar teori; ia telah menjadi default setting dalam banyak sistem modern. Akar formalnya dapat ditelusuri pada definisi ekonomi dari Lionel Robbins yang menyatakan bahwa ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia sebagai hubungan antara tujuan dan sarana langka yang memiliki berbagai alternatif penggunaan. Dalam definisi ini, manusia diposisikan sebagai pengelola kelangkaan—a manager of scarcity—yang secara rasional memilih opsi paling menguntungkan. Di kemudian hari, pemikiran ini diperkokoh oleh arsitek neoliberalisme seperti Milton Friedman, yang menekankan kebebasan pasar, minimnya intervensi negara, dan keyakinan bahwa kepentingan individu—jika dilepas dalam mekanisme pasar—akan menghasilkan kebaikan kolektif. Dalam paradigma ini, niat tidak lagi menjadi pusat; yang penting adalah hasil yang terukur: efisiensi, produktivitas, dan pertumbuhan.

Dalam dunia Homo Economicus: Amal diukur dalam utility,kebaikan diukur dalam output,keputusan diukur dalam cost-benefit analysis.Tidak ada ruang untuk “tanpa pamrih” karena setiap tindakan diasumsikan memiliki motif kepentingan—bahkan jika motif itu tersembunyi.

Ikhlas — Energi yang Tak Terukur

Berbeda dengan itu, ajaran fitrah memperkenalkan konsep yang secara radikal melampaui kalkulasi: ikhlas. Ia bukan sekadar niat baik, melainkan pemurnian tujuan hanya kepada Allah. Al-Qur’an menegaskan:

“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas...” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ikhlas bukan soal hasil, tetapi orientasi. Ia tidak mencari pengakuan, tidak bergantung pada validasi, dan tidak tunduk pada insentif eksternal. Bahkan, dalam banyak kasus, ikhlas justru tumbuh dalam kesunyian—di saat tidak ada yang melihat.

Dalam perspektif ini:Amal kecil bisa bernilai besar jika ikhlas. Amal besar bisa hampa jika tercampur riya’.Ikhlas adalah energi tak kasat mata yang tidak bisa diukur oleh grafik, tidak bisa dihitung oleh algoritma, dan tidak bisa dimonetisasi oleh pasar.

Antitesis terhadap Robbins — Dari Kelangkaan ke Kecukupan

Definisi ekonomi ala Lionel C Robbins (guru besar ekonomi London School of Economic) berangkat dari asumsi dasar: kelangkaan adalah kondisi permanen manusia. Dari sini lahir logika kompetisi, efisiensi, dan prioritas.

Namun, dalam pandangan Qur’ani, kelangkaan bukanlah satu-satunya narasi. Allah berfirman:

“Dan Dia telah menciptakan di bumi segala kebutuhan makhluk-Nya dan menentukan kadar rezekinya...” (QS. Fushshilat: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa bumi telah disiapkan dengan kecukupan ((sufficiency),bukan sekadar kelangkaan. Masalah bukan pada kurangnya sumber daya, tetapi pada distribusi, keserakahan, dan sistem yang tidak adil. Maka antitesisnya jelas:

Robbins: manusia mengelola kelangkaan

Qur’an: manusia mengelola amanah kecukupan.

Dalam paradigma pertama, tindakan didorong oleh kekurangan sehingga melahirkan kompetisi.Dalam paradigma kedua, tindakan didorong oleh amanah yang melahirkan tanggung jawab.

Ikhlas hanya mungkin tumbuh dalam paradigma amanah, bukan dalam tekanan kelangkaan yang konstan.

Kritik terhadap Friedman — Kebebasan atau Ilusi?

Milton Friedman berbicara tentang kebebasan—bahwa pasar bebas memungkinkan individu mengejar kepentingannya sendiri, dan dari situ akan muncul kesejahteraan bersama. Namun, dalam praktiknya, kebebasan ini sering menjadi kebebasan untuk bersaing tanpa batas, bahkan jika itu berarti mengorbankan nilai-nilai moral.

Dalam sistem yang digerakkan oleh insentif:kebaikan dilakukan jika ada imbalan,kejujuran dijaga jika ada sesuatu yang menguntungkan,kepedulian muncul jika ada nilai ekonomi.Di sinilah ikhlas mulai tergerus. Karena: ikhlas tidak menunggu imbalan,ikhlas tidak tergantung hasil.Ketika setiap tindakan harus “masuk akal secara ekonomi”, maka tindakan yang tidak menguntungkan—meski benar—akan tersingkir.

Berbeda dengan Homo Economicus, Islam memandang manusia sebagai khalifah—pengelola bumi yang diberi amanah. Ini bukan sekadar peran fungsional, tetapi identitas spiritual.

Dalam QS. Al-Ahzab: 72 disebutkan bahwa amanah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung, namun mereka enggan memikulnya—lalu manusia menerimanya.

Amanah ini mencakup:tanggung jawab moral,kesadaran spiritual,dan kemampuan untuk memilih dengan niat.Homo Fitrah hidup bukan untuk memaksimalkan keuntungan, tetapi untuk menunaikan amanah dengan ikhlas.Dalam paradigma ini:kerja adalah ibadah,hasil itu bonus,dan niat merupakan inti.

Di dunia modern, pertarungan terbesar bukan sekedar antara baik dan buruk, tetapi juga antara ikhlas dan insentif. Insentif bekerja dari luar, bentuknya bisa bonus,penghargaan,pengakuan.

Sedangkan ikhlas bekerja dari dalam: kesadaran,keimanan,cinta kepada Allah.

Ketika sistem terlalu bergantung pada insentif, manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk bertindak tanpa imbalan. Ia menjadi tergantung pada validasi eksternal.Inilah tragedi Homo Economicus: ia tidak lagi tahu bagaimana berbuat tanpa dihitung.

Ekologi Hati — Perspektif Fitrah

Dalam pendekatan fitrah yang kita gagas, ikhlas sebagai bagian dari ekologi batin.

Ikhlas itu seperti tanah subur.Riya’ identik dengan polusi.Ujub itu erosi,dan Sum’ah itu seperti kebisingan.Jika tanah hati tercemar, maka amal yang tumbuh di atasnya juga akan rusak. Sebaliknya, jika hati bersih, maka amal akan berbuah meski tanpa pupuk insentif.

Dalam sistem pertanian modern, kita melihat bagaimana tanah dipaksa produktif dengan pupuk kimia—cepat, tapi merusak jangka panjang. Ini paralel dengan sistem sosial yang memaksa manusia produktif dengan insentif—efisien, tapi mengikis keikhlasan.Fitrah mengajak kembali ke keselarasan, keberlanjutan,dan keikhlasan sebagai energi utama.

Ikhlas dalam Perumpamaan Fenomena Alam

Hujan memberi tanpa memilih.Hujan turun ke hutan,ke sawah,ke tanah subur,bahkan ke tanah tandus.Ia tidak memilih:siapa yang layak,siapa yang membalas. Ia hanya “turun” karena perintah Allah.

“Dan Kami turunkan air dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan itu berbagai jenis tumbuhan...” (QS. Thaha: 53).Makna ikhlasnya: memberi tanpa seleksi ego, tidak menuntut balasan.

Matahari terang tanpa pamer.Matahari bersinar tidak pernah berkata: “lihat aku”, tidak pernah menuntut ucapan terima kasih, tidak berhenti karena dicaci. Ia tetap memberi cahaya,energi,kehidupan.

“Dan Dia menjadikan matahari sebagai pelita...” (QS. Nuh: 16). Makna ikhlasnya: manfaat yang konsisten tanpa butuh pengakuan.

Pohon berbuah tanpa memakan.Pohon memberi buah, memberi oksigen, memberi teduh. Tapi tidak memakan buahnya sendiri,tidak meminta bayaran dari yang berteduh.

“Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik...” (QS. Ibrahim: 24) Makna ikhlasnya: memberi yang terbaik, bahkan bukan untuk dirinya sendiri.

Sungai mengalir tanpa menyimpan. Sungai terus mengalir,tidak menimbun air untuk dirinya,justru hidup karena memberi aliran. Kalau ia berhenti,justru menjadi keruh menjadi busuk. Makna ikhlasnya: kebaikan harus mengalir, ditahan berarti rusak.

Tanah menyerap tanpa dipuji. Tanah menerima air hujan, daun gugur, bahkan limbah. Lalu mengubahnya jadi kehidupan. Tanah tidak pernah berkata: “aku yang membuat ini tumbuh”

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhannya...” (QS. Al-A’raf: 58)

Makna ikhlasnya: bekerja dalam diam, hasil terlihat, pelaku tersembunyi.

Ikhlas itu seperti air jernih,tidak berwarna tapi memberi warna pada kehidupan. Kalau tercampur sedikit saja berubah.Begitulah niat,sedikit riya’ bisa mengubah segalanya.

Dari semua fenomena ini, kita bisa simpulkan: Alam “ikhlas” karena ia tidak punya ego, ia tunduk total pada sunnatullah. Sedangkan manusia punya ego punya pilihan. Maka, ikhlas pada manusia = memilih menjadi seperti alam, tapi dengan kesadaran

Siapa yang Masih Bisa Ikhlas?

Kita kembali ke pertanyaan awal. Homo Economicus bisa berbuat baik, bisa jujur, bisa produktif; tetapi sulit ikhlas karena setiap tindakan terikat kalkulasi.

Homo Fitrah mungkin tidak selalu efisien, mungkin tidak selalu terlihat berhasil, tetapi memiliki ruang untuk ikhlas karena orientasinya kepada Allah. Namun, realitas tidak hitam-putih. Banyak manusia hari ini berada di antara dua kutub: bekerja dalam sistem ekonomi modern,tetapi berusaha menjaga niat tetap lillah.

Di sinilah jihad terbesar terjadi: menjaga ikhlas di tengah sistem yang memonetisasi segalanya.

Dalam Al-Qur’an, Iblis bersumpah akan menyesatkan manusia.“Ia (Iblis) berkata: Demi kemuliaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.”(QS. Shad: 82–83). Ini pengakuan langsung: Iblis sendiri menyerah terhadap orang yang ikhlas.Iblis juga tidak punya kekuasaan atas hamba tertentu. “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau (Iblis) tidak memiliki kekuasaan atas mereka.”(QS. Al-Hijr: 42). “Sultan” (kekuasaan) di sini maksudnya tidak bisa mengendalikan, tidak bisa memaksa,tidak bisa menembus hati yang bersih.

Makna mendalam Ikhlas itu seperti “tameng ilahi”.Bukan berarti iblis tidak mendekat sama sekali,tapi godaannya tidak menembus hati. Ibaratnya hati ikhlas itu benteng tertutup, sedang hati riya’ itu pintu terbuka.Perlu dibedakan antara “digoda” dan “dikuasai”.Semua manusia digoda,tapi tidak semua dikuasai. Orang ikhlas tetap diuji tapi tidak tunduk.Figur Mukhlis adalah seorang yang sedang berjuang ikhlas. Sedangkan Mukhlas itu sudah dijaga Allah.Yang benar-benar “kebal” adalah level mukhlash (yang dijaga Allah).Ikhlas itu dinamis.Ini penting,ikhlas bukan status permanen.Hari ini ikhlas,besok bisa tercampur riya'.

Makanya para ulama takut, dan  mengatakan: "Tidak ada yang lebih sulit daripada menjaga ikhlas".

Ikhlas bukan konsep kuno yang usang.Ia justru menjadi semakin relevan di era digital dan kapitalistik, di mana segala sesuatu bisa diukur, dinilai, dan dipamerkan.Ikhlas adalah bentuk perlawanan paling sunyi melawan riya’,melawan ego,melawan sistem yang menjadikan manusia sekadar angka.

Dalam dunia yang terus bertanya “berapa hasilnya?”, ikhlas menjawab: “untuk siapa ini dilakukan"? Dan mungkin, di situlah letak kemerdekaan sejati manusia—bukan dalam kebebasan memilih, tetapi dalam kebebasan untuk memurnikan niat.

Ikhlas adalah amal yang tidak membutuhkan saksi, kecuali Allah. Homo Economicus menghitung hasil; Homo Fitrah menjaga niat. Ketika semua hal bisa dimonetisasi,ikhlas menjadi bentuk ibadah paling langka;bukan yang paling besar amalnya, tapi yang paling murni niatnya.

Kalau Homo Economicus selalu bertanya: “apa yang saya dapat?” Maka alam (dan Homo Fitrah) menjawab: “apa yang bisa saya berikan?” Dan di situlah ikhlas hidup.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |