REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Umum (Perum) Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan pengembangan teknologi penyimpanan beras jangka panjang sebagai langkah memperkuat ketahanan pangan nasional. Teknologi tersebut memungkinkan beras cadangan pemerintah disimpan lebih lama dengan kualitas tetap terjaga.
Rizal menyampaikan, inovasi itu dikembangkan melalui kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Institut Pertanian Bogor (IPB). “Nah, kemudian kami sudah bekerja sama dengan BRIN dan teman-teman IPB. Jadi, kita sudah menemukan teknologi untuk bisa menyimpan beras di gudang lebih dari dua tahun dengan kondisi yang sangat baik,” kata purnawirawan jenderal bintang tiga ini di Jakarta, Rabu (6/5/2026) lalu.
Ia menjelaskan, teknologi tersebut akan diterapkan pada gudang-gudang baru yang tengah disiapkan pemerintah, terutama di wilayah terdepan. Penguatan infrastruktur ini diharapkan menjaga kualitas cadangan beras sekaligus menjamin ketersediaan pangan di daerah terpencil.
Rizal menambahkan, pembangunan gudang baru telah mendapat dukungan anggaran pemerintah dan diprioritaskan di sejumlah wilayah seperti Nias dan Morotai. Lokasi ini dinilai strategis untuk memperkuat distribusi pangan di daerah yang rentan terhadap gangguan logistik.
“Nah, teknologi ini akan kita terapkan di gudang-gudang baru, seperti di Nias dan Morotai,” ujarnya.
Dalam pengelolaan saat ini, Bulog mengoperasikan sekitar 1.555 gudang dengan kapasitas sekitar 3,7 juta ton beras. Keterbatasan kapasitas membuat Bulog menambah sewa gudang hingga mendekati 2 juta ton untuk menampung cadangan beras pemerintah.
Volume stok yang besar mendorong penerapan sistem pemeliharaan berlapis guna menjaga mutu beras selama masa penyimpanan. Setiap gudang menjalankan perawatan rutin serta pengendalian hama sebagai bagian dari standar operasional.
“Kalau kutu, kita gunakan program fumigasi. Fumigasi itu, kalau bahasa sederhananya, beras ditutup rapat agar hama mati,” tutur Rizal.
Ia menjelaskan, beras yang mengalami penurunan mutu setelah disimpan dalam waktu tertentu akan melalui proses perbaikan kualitas atau reprocessing. Proses ini dilakukan dengan teknologi pengolahan agar beras kembali layak konsumsi.
Pengembangan teknologi penyimpanan beras ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang dalam menjaga stabilitas pangan. Langkah tersebut juga mendukung peningkatan kapasitas logistik seiring besarnya cadangan beras pemerintah.

3 hours ago
8

















































