Panen Jagung Sukses di Donggala, NTB Siapkan Cadangan Daerah

9 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, kembali menunjukkan komitmen kuat terhadap swasembada pangan nasional melalui panen jagung di Desa Batusuya Go’o, Kecamatan Sindue Tombusabora. Total produksi mencapai 24 ton dari lahan seluas 3,9 hektare yang ditanam di kebun kelapa, sebuah inovasi petani setempat.

“Ini bukti nyata keberhasilan petani dalam mengolah potensi lahan,” ujar Bupati Donggala Vera Elena Laruni saat ditemui awak media di Banawa, Kamis. Panen ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Bupati menekankan bahwa swasembada pangan bukan hanya soal angka produksi, melainkan alat menekan kemiskinan dan mencegah persoalan sosial. Ia mendorong pembentukan lumbung jagung desa berbasis gotong royong agar setiap desa memiliki cadangan mandiri menghadapi situasi darurat.

Pemerintah daerah memberikan pendampingan penuh, mulai dari penyediaan benih hingga bantuan teknis bagi kelompok tani. Vera berharap panen ini menjadi momentum menuju Donggala mandiri pangan dan berdaya saing.

Di sisi lain, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) juga memperkuat ketahanan pangan dengan rencana pembentukan cadangan jagung daerah sebagai pelengkap cadangan beras. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Eva Dewiyani, menjelaskan langkah ini antisipatif menghadapi fluktuasi harga saat panen raya.

“NTB memiliki luas panen sekitar 173 ribu hektare dengan produksi lebih dari satu juta ton per tahun, menjadikannya salah satu produsen jagung terbesar nasional,” ujar Eva di Mataram, beberapa waktu lalu.

Cadangan jagung diharapkan menjadi instrumen penyangga harga di tingkat petani, saat ini stabil di kisaran Rp6.500 per kg berkat HPP pemerintah, dan memperluas pilihan cadangan pangan agar tidak bergantung pada beras saja. Eva mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dengan menghindari pembukaan lahan hutan untuk tanam jagung.

Sementara itu, di Kota Mataram, produksi jagung justru mengalami penurunan drastis dari 1.141 ton pada 2024 menjadi hanya 36,376 ton pada 2025. Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, H Lalu Johari, menjelaskan penurunan ini dipicu beberapa faktor: petani beralih ke tanaman padi karena ketersediaan air cukup, luas lahan jagung menyusut menjadi 1.485 hektare, serta karakter petani penggarap yang lebih memilih padi, perawatan mudah, harga stabil, penjualan lancar, dan risiko rendah.

Meski jagung turun, produksi padi justru meningkat dari 23.078 ton menjadi 24.411 ton (naik 1.333 ton atau 105,78 persen), berkat penanganan OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) seperti penggerek batang dan wereng oleh tim POPT selama musim hujan.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |