UMY Lawatan ke Vatikan, Sepakat Perangi Economic War hingga Kampanyekan Perdamaian Dunia

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN - Delegasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melakukan lawatan resmi ke Vatikan pada 5–6 Mei 2026. Keduanya menghasilkan kesepakatan penting termasuk memerangi perang ekonomi dunia yang belakangan terus memicu krisis kemanusiaan di berbagai negara.

Dalam pertemuan tersebut, delegasi UMY diterima langsung oleh Menteri dialog antar agama (Dicastery for Interreligious Dialogue) Kardinal George Jacob Koovakad, Kardinal George Jacob dan turut dihadiri Rev Fr Markus Solo SVD, pastor asal Indonesia yang kini menjadi Sekretaris Dicastery for Interreligious Dialogue Vatikan.

Rektor UMY, Prof Dr Achmad Nurmandi, mengatakan kondisi global saat ini tengah berada dalam situasi yang mengkhawatirkan akibat konflik dan perang yang terjadi di berbagai kawasan dunia. Menurutnya dalam pertemuan itu, Kardinal Koovakad menyebut konflik yang saat ini berlangsung sebenarnya merupakan bentuk 'economic war' atau perang ekonomi.

Beberapa faktor yang menjadi perhatian antara lain melemahnya otoritas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pengabaian hukum internasional, serta tindakan sejumlah negara adidaya yang dinilai merugikan negara-negara yang lebih lemah secara militer maupun ekonomi.

"Secara global dunia ini sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Perang di berbagai belahan dunia. Nah dampak dari perang ekonomi itu adalah negara yang kuat akan selalu berusaha menguasai negara-negara yang lemah secara militer," ujarnya dalam acara konferensi pers di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (11/5/2026).

Achmad menuturkan, Vatikan dan Muhammadiyah sepakat bahwa organisasi keagamaan dunia perlu membangun koalisi bersama untuk menyuarakan perdamaian dan menghentikan praktik perang ekonomi yang berdampak pada penderitaan masyarakat sipil. "Kardinal menyampaikan perlunya gerakan bersama untuk menghentikan perang ekonomi di seluruh belahan dunia yang menimbulkan penderitaan umat manusia, termasuk anak-anak dan perempuan," ucapnya.

Ia menjelaskan, kerja sama tersebut juga menjadi tindak lanjut dari Deklarasi Istiqlal yang memuat dua agenda utama, yakni humanisasi dan pendidikan.

"Kita sepakat pada pertemuan itu bagaimana antara Vatikan dan Muhammadiyah bekerjasama menyampaikan message-message, pesan-pesan perdamaian kritik, advokasi kemudian aksi-aksi nyata," ucap dia.

"Dan kebetulan kita juga sudah punya kesepakatan Indonesia dengan Vatikan adalah kesepakatan Deklarasi Istiqlal. Ada dua butir deklarasi itu. Pertama adalah humanisasi, menjaga perdamaian. Kedua adalah pendidikan," katanya menambahkan.

Dalam lawatan tersebut, delegasi UMY juga mengikuti audiensi umum bersama Paus Leo XIV. Achmad mengaku sempat menyampaikan langsung pentingnya kerja sama lintas agama dalam menjaga perdamaian dunia.

Paus Leo disebutnya menyambut baik hasil pertemuan tersebut dan dapat segera ditindaklanjuti dengan kerja kerja konkrit dengan pesan yang jelas untuk perdamaian dunia.

"Dalam pertemuan itu juga saya sampaikan perlunya kita bekerjasama antar umat beragama di dunia ini untuk menjaga perdamaian dunia. Dan beliau menyampaikan sangat setuju dan segera akan ditindaklanjuti dengan langkah-langkah konkret di lapangan," ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Bachtiar Dwi Kurniawan, menyebut lawatan tersebut juga dimanfaatkan untuk memperluas jejaring akademik internasional. Selain bertemu pihak Vatikan, delegasi UMY juga mendatangi Pontifical Institute for Arabic and Islamic Studies atau PISAI dan diterima langsung oleh Presidennya, Rev. Don Wasim Salman. Dalam pertemuan tersebut, Wasim Salman menekankan pentingnya pemikiran Islam Indonesia, khususnya Muhammadiyah, untuk diperkenalkan lebih luas kepada akademisi Vatikan dan dunia internasional. Ia menilai konsep Islam berkemajuan Muhammadiyah relevan untuk menjawab berbagai persoalan global yang tengah dihadapi dunia saat ini.

"Saya kira ini poin yang sangat krusial bagi Muhammadiyah yang sejak lama bekerja dalam pelayanan kepada masyarakat, orang miskin, orang susah, kemanusiaan dan perdamaian itu sendiri," ujar Bachtiar.

Pihak PISAI juga mengundang akademisi Muhammadiyah untuk mengajar di kampus tersebut pada masa mendatang sekaligus memperkuat kolaborasi akademik bagi dosen maupun mahasiswa guna membangun kesepahaman dan memajukan ilmu pengetahuan.

"Sehingga kalau ada peluang, ini akan memperluas cakrawala akademik, spektrum pergaulan sivitas akademika kami termasuk anak-anak kami untuk bisa mengenal kultur, sistem dan environment akademik di luar negeri termasuk di Italia dan Eropa bagian selatan," ucapnya.

Selain agenda akademik, delegasi UMY juga berkunjung ke markas komunitas Saint’Egidio di Roma. Dalam pertemuan itu, kedua pihak sepakat memperkuat kerja sama di bidang kemanusiaan, promosi perdamaian, serta pelayanan kepada kelompok lemah, miskin, dan tertindas. Muhammadiyah dan Sant’Egidio dinilai memiliki kesamaan visi dalam memperjuangkan toleransi dan kemajuan umat manusia.

"Harapan kami dunia tidak lagi diatur dan dipimpin oleh kekuasaan saja, tapi dunia itu dipandu oleh kekuatan moral yaitu kebaikan dan kebenaran. Yang menang harusnya adalah kebaikan dan kebenaran itu sendiri bukan kekuasaan atau kekuatan seperti yang dipertontonkan oleh negara-negara adidaya adikuasa itu," ujarnya.

Read Entire Article
Politics | | | |