Plt Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Frederica Widyasari Dewi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan kegiatan penghimpunan dana di pasar modal menembus Rp 250 triliun pada 2026. Target tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi penghimpunan dana di pasar modal pada 2025 yang mencapai Rp 274,8 triliun.
“Di pasar modal, penghimpunan dana ditargetkan sebesar Rp 250 triliun di tahun 2026,” ungkap Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Frederica Widyasari Dewi dalam agenda Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026 di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (5/2/2026) malam.
Frederica yang kerap disapa Kiki menerangkan, memasuki 2026, fragmentasi dan geoekonomi global semakin tereskalasi sehingga memicu pergeseran lalu lintas perdagangan dan pola aliran modal.
Kendati demikian, ia menyebut Indonesia menunjukkan resiliensi dengan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan mencapai 5,4 persen pada 2026. Untuk mendukung hal tersebut, ia menekankan fokus kebijakan yang diusung OJK, di antaranya penguatan ketahanan sektor jasa keuangan.
Kiki menyebut 2026 menjadi critical path dalam agenda pemenuhan modal minimum lembaga jasa keuangan agar terbentuk struktur industri jasa keuangan yang semakin kuat dan kompetitif. Ia memastikan langkah perbaikan atau reformasi terus dilakukan demi mendorong pertumbuhan pasar modal yang lebih positif di tengah kondisi yang cukup menantang.
“Dinamika yang terjadi pada pasar modal, kami sadari menjadi momentum refleksi bahwa pertumbuhan yang tinggi tidak cukup. Diperlukan langkah perbaikan agar pertumbuhan di pasar modal lebih berkualitas,” ujar Kiki.
“OJK bersama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), pelaku industri, dan para stakeholder berkomitmen melakukan reformasi-reformasi integritas pasar modal Indonesia,” lanjutnya.

2 hours ago
3














































