Na Willa: Ketika Kebahagiaan Serendah Gundukan Kacang Hijau

11 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada sunyi yang riuh dalam tawa anak-anak. Di tengah gempita tontonan digital yang serba cepat dan bising, hadir sebuah oase bernama Na Willa. Film ini bukan sekadar tontonan; ia seperti undangan untuk berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu menelusuri lorong waktu menuju masa kanak-kanak yang sederhana, hangat, dan penuh makna.

Sutradara Ryan Adriandhy, yang tengah memulai debutnya dalam film live-action, dengan peka mengadaptasi novel karya Reda Gaudiamo. Ia membawa kita menjejakkan kaki di Gang Krembangan, Surabaya, pada era 1960-an. Dunia terasa begitu luas sekaligus intim melalui sudut pandang Na Willa, seorang bocah perempuan berusia enam tahun. Baginya, hidup adalah kanvas imajinasi yang diwarnai oleh rasa ingin tahu yang tak terbatas. Bersama sahabat-sahabatnya, Dul, Bud, dan Farida, hari-harinya diisi oleh permainan sederhana, obrolan ringan, dan petualangan-petualangan kecil yang rupanya menyimpan pelajaran hidup yang amat besar.

Keajaiban film ini terletak pada kemampuannya membangkitkan nostalgia tanpa pernah terasa dipaksakan. Kita diajak kembali ke masa ketika kebahagiaan hadir dalam bentuk yang paling membumi: sensasi dingin limun bersoda di siang hari di warung Cik Mien, atau sekadar kegembiraan memasukkan jemari ke dalam gundukan kacang hijau. Dunia yang ditampilkan terasa otentik, sehangat getuk dan pisang yang menjadi camilan sehari-hari Na Willa. Di sinilah kontras yang tajam tercipta, sebuah lapisan penting dalam film ini. Berbeda jauh dengan realitas anak masa kini yang lekat dengan gawai dan makanan instan, Na Willa menghadirkan kehangatan yang riil dan membumi. Tidak ada sensasi berlebihan, tak ada dramatik yang dipaksakan; yang ada hanyalah kehidupan apa adanya, dan di situlah kekuatannya bersemayam.

Lebih dari sekadar nostalgia, Na Willa adalah cermin yang membalikkan persepsi orang dewasa. Ambillah adegan ketika Mak, yang diperankan dengan pas oleh Irma Rihi, mengajari Na Willa tentang kejujuran. Ia tidak menggurui dengan ceramah panjang, melainkan dengan metafora yang sederhana namun membekas: kebohongan itu seperti kerikil di dalam sepatu. Semakin sering kau berbohong, semakin banyak kerikil yang mengganggu setiap langkahmu. Dalam dunia modern yang kerap menjadikan kebohongan sebagai jalan pintas, film ini menegur dengan halus bahwa kompleksitas hidup yang kita rasakan saat dewasa seringkali berakar dari pilihan-pilihan kecil yang kita abaikan.

Pun dengan tema tanggung jawab. Bagi Na Willa, merawat seekor anak ayam kuning kecil bukanlah beban, melainkan bagian dari keseruan sehari-hari. Perspektif ini terasa segar, mengingatkan kita pada cara orang dewasa yang kerap memaknai tanggung jawab sebagai sumber tekanan, padahal ia sejatinya adalah sumber kegembiraan. Di sini, film ini juga menyentuh isu perbedaan dengan cara yang ringan namun bermakna. Melalui interaksi antar tokoh anak, perbedaan latar belakang, kondisi fisik, maupun cara berpikir tak pernah menjadi konflik yang tajam. Ia justru menjadi warna yang memperkaya kehidupan.

Salah satu karakter yang mencuri perhatian adalah Dul, seorang anak dengan kaki buntung akibat tertabrak kereta. Meski hidup dengan keterbatasan, Dul digambarkan tetap optimistis, tidak larut dalam kesedihan. Semangatnya yang menular menjadi refleksi tajam bagi kita, orang dewasa, yang sering kali mudah terpuruk ketika menghadapi kesulitan. Film ini juga menyoroti hubungan orang tua dan anak dalam konteks kemelekatan. Sosok Mak digambarkan sebagai ibu yang penuh kasih namun diliputi kekhawatiran saat Na Willa hendak menjelajah dunia di sekolah. Sementara itu, Pak, yang diperankan Junior Liem, menghadirkan sudut pandang lain: bahwa jika anak terus dilindungi dari segala kemungkinan, ia tak akan pernah benar-benar mengalami kehidupan. Na Willa tak menawarkan jawaban hitam-putih, melainkan membuka ruang perenungan yang lapang tentang batas antara melindungi dan membiarkan anak bertumbuh.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |