Menteri PPPA Arifah Fauzi Bongkar Bahaya Diamnya Anak Laki-Laki

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mendorong anak laki-laki di seluruh Indonesia untuk lebih berani mengungkapkan perasaan dan keluhan yang mereka alami. Langkah ini dinilai krusial guna menjaga kesehatan mental sekaligus mendobrak stigma budaya yang menuntut laki-laki untuk selalu terlihat kuat tanpa keluhan.

Pernyataan ini disampaikan Menteri Arifah menanggapi kasus memilukan di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana seorang siswa kelas 4 SD berinisial Y (10) memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

"Salah satu inisiasi yang kami lakukan adalah memperkuat anak laki-laki untuk bisa speak up terhadap apa yang mereka rasakan. Kita ingin menyampaikan bahwa laki-laki itu boleh curhat. Selama ini ada tuntutan budaya bahwa laki-laki tidak boleh mengeluh, harus jadi yang paling hebat, padahal kenyataannya laki-laki juga manusia yang rentan mengalami kekerasan," ujar Menteri Arifah Fauzi di Jakarta, Kamis (5/2).

Dampak Buruk Stereotipe Maskulinitas

Menteri PPPA menilai kuatnya stereotipe maskulinitas menjadi beban mental bagi banyak anak laki-laki. Keengganan untuk melapor atau berbagi cerita membuat persoalan pribadi dipendam sendiri, yang pada akhirnya berisiko memicu gangguan kesehatan mental hingga perilaku sosial yang negatif.

Berdasarkan data Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Tahun 2024, anak laki-laki terbukti rentan menjadi korban kekerasan di berbagai lingkungan, baik di rumah, sekolah, maupun komunitas. Namun, karena tekanan untuk selalu mandiri secara emosional, banyak dari mereka yang tidak mendapatkan penanganan yang semestinya.

Pendalaman Kasus di Ngada

Terkait kasus di Ngada, Kementerian PPPA kini bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk mendalami motif di balik keputusan tragis korban. Meski tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik, pihak kementerian fokus melakukan pendalaman terhadap kemungkinan adanya kekerasan psikis.

"Kami sedang mendalami apa yang menyebabkan anak tersebut mengambil keputusan itu dan dari mana ia mendapatkan inspirasi untuk melakukannya. Kita tidak ingin anak-anak yang memiliki semangat pendidikan luar biasa harus kehilangan masa depan karena tidak memiliki teman bicara atau saluran untuk menyampaikan keresahan mereka," tambahnya.

Kementerian PPPA berkomitmen untuk terus menciptakan ruang aman bagi seluruh anak, tanpa memandang gender, agar mereka merasa didengar dan mendapatkan bantuan emosional yang dibutuhkan untuk memutus siklus kekerasan dan tekanan mental.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |