REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjadikan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran sebagai strategi besar untuk meningkatkan pemerataan akses serta kualitas pendidikan di seluruh Indonesia.
“Program ini adalah strategi besar untuk meningkatkan pemerataan akses dan kualitas, demi menyiapkan generasi kompeten dan berdaya saing,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, di Jakarta, Rabu.
Sejak 2025, program revitalisasi telah diimplementasikan secara nasional, termasuk di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Sebanyak 389 SMK di wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua menerima intervensi bertahap dengan total anggaran lebih dari Rp649 miliar.
Program ini tidak hanya memperbaiki fisik bangunan, seperti Ruang Praktik Siswa (RPS), ruang kelas, toilet, dan sarana pendukung lainnya, tetapi juga mengatasi tantangan serius di KTI, seperti keterbatasan fasilitas, kondisi bangunan kurang layak, geografis sulit, transportasi terbatas, dan cuaca ekstrem. Tujuannya menghadirkan sekolah yang aman, nyaman, dan siap mendukung proses belajar mengajar berkualitas.
Selaras dengan itu, Program Digitalisasi Pembelajaran telah menjangkau 1.972 SMK di wilayah yang sama melalui penyaluran Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP). Teknologi ini mengubah pembelajaran menjadi lebih interaktif, kontekstual, dan mendalam, memungkinkan siswa mengakses sumber belajar lebih luas serta berpartisipasi aktif.
Kepala SMK Gotong Royong Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara, Petronela Baranyanan, mengisahkan perubahan signifikan di sekolahnya. “Awalnya pembelajaran terpusat pada guru. Setelah PID hadir, murid lebih bersemangat mencari tahu, menjelaskan hasil, dan berdiskusi kelompok. Mereka bisa membuat visual langsung di PID, sehingga pembelajaran jadi lebih hidup dan kontekstual,” ujarnya.
Pendekatan serupa diterapkan melalui konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), yang menekankan pemahaman bermakna, bukan sekadar hafalan. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menegaskan bahwa pembelajaran mendalam memberikan informasi sekaligus inspirasi, sehingga siswa mampu mengontekstualisasikan materi.
sumber : Antara

12 hours ago
8















































