Global Sumud Flotilla Kembali Coba Tembus Gaza Maret Ini

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JOHANNESBURG — Pelayaran akbar Global Sumud Flotilla (GSF) menuju Gaza memastikan 29 Maret 2026 sebagai tanggal keberangkatan. Misi menembus blokade Zionis Israel tahun ini bakal kembali ditempuh melalui Laut Mediterania.

Ditargetkan sekitar 10 ribu aktivis dan relawan dari seluruh dunia akan turut ambil bagian dalam misi kemanusian untuk membantu mengakhiri penjajahan dan genosida yang dilakukan rezim Zionis Israel terhadap bangsa Palestina di Gaza.

Kepastian tanggal konvoi serempak tersebut, setelah sejumlah perwakilan aktivis dan relawan dari sejumlah negara berkumpul di Afrika Selatan (Afsel) sejak awal pekan lalu. Para aktivis dan relawan tersebut mewakili para motor pegiat dari Global Sumud Flotilla, Freedom Flotilla, dan Global Sumud Magribi, bersama kelompok-kelompok pendukung kemerdekaan Palestina lainnya. Mereka berkumpul di Nana Memorial, Nelson Mandela Foundation di Johannesburg untuk menyusun rencana yang disebut sebagai GSF Musim Semi 2026.

Steering Committee (SC) GSF Sumayra dalam penjelasannya menyampaikan pelayaran akbar musim semi tahun ini tetap harus dilakukan lantaran melihat penjajahan, penindasan, dan genosida yang dilakukan Israel di Gaza masih terus terjadi. Dan masyarakat Palestina di Gaza yang hingga kini masih dalam blokade tak manusia.

“Gerakan ini kembali harus kita lakukan untuk kita tetap melawan pada penindasan,” begitu kata Sumayra melalui pesan yang disampaikan kepada seluruh partisipan GSF, Kamis (5/2/2026). Pada misi pelayaran tahun ini, kata aktivis asal Jerman itu, jumlah partisipasi harus lebih besar dari pelayaran serupa tahun lalu.

“Dengan ini, kami datang untuk membawa puluhan ribu peserta, termasuk sedikitnya seribu dokter, perawat, dan tenaga kesehatan. Dan kami akan berlayar dengan sedikitnya seratus kapal,” kata Sumayra.

“Dan kami di sini mengundang semua aktivis dan relawan dari semua negara untuk ikut bergabung dalam misi kemanusian ini,” ujar dia. Dari pembahasan yang digelar di Johannesburg, para penggerak aktivisme Palestina itu membulatkan Maret 2026 sebagai bulan pelayaran. “Pada misi kali ini, kami akan berlayar pada tanggal 29 Maret 2026,” ujar dia.

Dari rencana yang sudah dalam finalisasi, GSF Musim Semi 2026 akan mengambil lokasi pelayaran serempak dari banyak titik. “Keberangkatan pelayaran kami akan dimulai dari Barcelona, dan iikuti selanjutnya dari Tunisia, lalu Italia, dan dari pelabuhan-pelabuhan Mediterania lainnya,” ujar Sumayra.

Pegiat dari Indonesia dalam pembahasan GSF 2026 di Johannesburg, diwakili oleh Maimoen Herawati selaku Dewan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI). GPCI merupakan konsorsium dari sedikitnya 30-an lembaga-lembaga filantropi yang selama ini giat dalam aktivisme Palestina di Indonesia.

Maimoen dalam penjelasannya mengatakan, pembahasan GSF 2026 di Johannesburg bukan cuma terkait rencana pelayaran akbar menembus Gaza via Laut Mediterania. Melainkan, kata Maimoen juga membahas soal rencana konvoi darat akbar melalui perlintasan negara-negara Afrika Utara sampai ke Mesir menuju perbatasan Gaza.

“GSF Musim Semi tahun ini, akan lebih besar dari tahun lalu. Karena tahun ini, misi menembus blokade (Zionis Israel terhadap Gaza) dengan memobilisasi gerakan dari laut, juga dari darat,” kata Maimoen kepada Republika, Kamis (5/2/2026).

Kata Maimoen, GPCI dengan sumber daya yang ada, tetap akan mengirimkan delegasinya untuk ikut bergabung dalam misi darat, maupun laut GSF Musim Semi 2026 ini. “Tim dari Indonesia telah bersiap secara intens untuk Global Sumud Flotilla Musim Semi ini. Pengalaman aktivis dan relawan GPCI tahun lalu menjadi pelajaran sangat berharga untuk kembali ambil bagian dalam misi kemanusian menembus blokade Gaza ini,” ujar Maimoen. “Dan kami sangat optimistis, misi tahun ini Insya Allah akan berhasil,” sambung Maimoen. 

Dalam Global Sumud Flotilla 2025 lalu, GPCI membawa sedikitnya 30-an aktivis, relawan, dan wartawan dalam misi menembus blokade Israel terhadap Gaza. Misi tahun lalu, terkonsentrasi di Tunisia dan melibatkan sedikitnya 400 aktivis dan relawan dari sekitar 45 negara.

Indonesia, menyumbangkan lima kapal dalam misi tersebut, meskipun sebelum pelayaran serempak ketika itu delegasi Indonesia menarik diri. Para relawan dan aktivis seperti Greta Thunberg dari Swedia, Thiago Avila dari Brasil, Jasmin Acar dari Jerman, serta Mandla Mandela cucu Nelson Mandela pejuang kemanusian dari Afrika Selatan turut ikut dalam pelayaran tahun lalu.

Read Entire Article
Politics | | | |