REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru tiga indikator strategis, yakni produk domestik bruto (PDB), ketenagakerjaan, dan kemiskinan. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan ketiga indikator tersebut memberikan gambaran penting mengenai arah perkembangan ekonomi dan sosial Indonesia.
“Di tengah dinamika perdagangan dan geopolitik global, ekonomi Indonesia tetap tangguh dan mencatat pertumbuhan yang solid,” ujar Amalia dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Amalia menyampaikan PDB Indonesia tumbuh sebesar 5,39 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal IV 2025, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,02 persen. Dengan demikian, ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tumbuh 5,11 persen secara tahunan (year on year), meningkat dari pertumbuhan 2024 yang tercatat sebesar 5,03 persen.
Sebagai pembanding, ekonomi sejumlah negara tetangga juga mencatat pertumbuhan positif pada kuartal IV 2025 (yoy), antara lain Vietnam sebesar 8,5 persen, Singapura 5,7 persen, Malaysia 5,7 persen, dan Filipina 3,0 persen. Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Vietnam mencapai 8,0 persen, diikuti China 5,0 persen, Malaysia 4,9 persen, dan Singapura 4,8 persen.
“Ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 tumbuh sebesar 5,39 persen secara tahunan, salah satunya didorong konsumsi masyarakat yang tetap terjaga,” lanjut Amalia.
Menurut dia, kinerja konsumsi rumah tangga pada kuartal IV 2025 terutama didorong meningkatnya mobilitas penduduk pada momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), kebijakan pemerintah dalam pengendalian inflasi, serta berbagai paket stimulus untuk menjaga daya beli, mendorong aktivitas ekonomi, dan pemberdayaan generasi muda.
Sejumlah indikator juga menunjukkan perkembangan positif, antara lain peningkatan transaksi daring dari e-retail dan marketplace, serta nilai transaksi uang elektronik, kartu debit, dan kartu kredit.
“Jumlah perjalanan wisatawan nusantara meningkat 13,42 persen secara tahunan pada kuartal IV 2025, diikuti peningkatan jumlah penumpang pada beberapa moda transportasi seperti angkutan rel dan angkutan laut,” sambung Amalia.
Selain konsumsi rumah tangga, komponen lain yang mendorong pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran adalah pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang tumbuh solid sebesar 6,12 persen. Amalia menilai pertumbuhan tersebut didorong peningkatan barang modal bangunan serta mesin dan peralatan.
“Sementara itu, konsumsi pemerintah meningkat sebesar 4,55 persen,” ucapnya.
Amalia juga menyampaikan ekspor barang dan jasa pada kuartal IV 2025 tumbuh 3,25 persen secara tahunan, didorong peningkatan ekspor komoditas nonmigas seperti lemak dan minyak hewan atau nabati, besi dan baja, mesin serta peralatan listrik, serta kendaraan dan bagiannya. Selain itu, peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara turut menopang pertumbuhan ekspor jasa.
“Dari sisi lapangan usaha, lima sektor utama yang memberikan kontribusi besar terhadap PDB kuartal IV 2025 adalah industri pengolahan sebesar 19,20 persen, perdagangan 13,24 persen, pertanian 11,56 persen, konstruksi 10,16 persen, dan pertambangan 8,93 persen,” lanjutnya.
Amalia menyebut sejumlah sektor mencatat pertumbuhan tinggi, antara lain transportasi dan pergudangan yang tumbuh 8,98 persen, informasi dan komunikasi 8,09 persen, serta jasa keuangan 7,92 persen. BPS mencatat industri pengolahan tumbuh 5,40 persen pada kuartal IV 2025 secara tahunan.
“Kinerja sektor ini terutama didorong industri makanan dan minuman, industri logam dasar, serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional. Pertumbuhan sektor industri pengolahan ditopang meningkatnya permintaan dari dalam dan luar negeri,” ujar Amalia.

2 hours ago
3















































