REPUBLIKA.CO.ID, PALU, – Anggota DPRD Kota Palu, Mutmainah Korona, meminta evaluasi menyeluruh terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) menyusul laporan makanan yang tidak layak dari SDN 6 Kayumalue Ngapa.
“Perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kasus distribusi MBG,” ujar Mutmainah di Palu, Selasa, merespons keluhan yang menyatakan bahwa makanan yang disajikan tidak memenuhi standar gizi anak.
Mutmainah menyoroti bahwa meskipun anggaran untuk MBG sangat besar hingga memotong anggaran pembangunan infrastruktur daerah, program ini lebih berorientasi pada keuntungan daripada meningkatkan gizi anak-anak.
“Saya merasa program MBG bukan memberikan perbaikan nutrisi bagi anak-anak, namun menjadi praktik bisnis kelompok tertentu berbasis program pemerintah,” ungkapnya.
Dia juga mempertanyakan efektivitas kinerja para pengelola dapur MBG, tim ahli gizi, serta tim monitoring dan evaluasi yang sudah menerima gaji. Apakah mereka telah bekerja sesuai standar operasional atau tidak.
Kritik dari Orang Tua dan Guru
Sebelumnya, program MBG yang diluncurkan pada hari pertama masuk sekolah di bulan Ramadhan di Kota Palu menuai kritik dari orang tua siswa dan guru. Para orang tua menyebut menu MBG yang diterima anak-anak tidak sejalan dengan harga porsi yang ditetapkan, yaitu Rp 15.000 per anak.
Kritik ini berawal dari sebuah video viral di media sosial yang diunggah di akun Facebook @Pinky Lidya Zweety. Video tersebut menunjukkan orang tua murid dari SDN Bumi Sagu terkejut melihat MBG anaknya hanya terdiri dari sebiji perkedel jagung dan sebungkus kecil kacang goreng.
Akun Facebook lain, @Olin, juga mengkritik dengan menunjukkan bahwa anaknya hanya menerima sepotong roti kecil, sebiji telur rebus, dan satu buah jeruk. Ia mempertanyakan apakah semua itu layak dinilai Rp15 ribu.
Akun @Syarifah Ifah mengancam akan memviralkan MBG milik anaknya jika tidak ada perbaikan. Sementara itu, @Wahidah Wati, seorang guru di Kayumalue, meminta perhatian serius dari pemerintah setempat terkait MBG yang dinilainya tidak mendidik.
Unggahan tersebut memunculkan banyak komentar dari warganet yang mempertanyakan transparansi dan kredibilitas penggunaan anggaran oleh pengelola dapur MBG, khususnya di wilayah tersebut. Beberapa warganet menyarankan agar selama bulan puasa, program ini sebaiknya dihentikan.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

6 hours ago
6















































