BSI Targetkan Pertumbuhan Profitabilitas Capai Double Digit pada 2026

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatatkan laba bersih perseroan sepanjang 2025 sebesar Rp 7,57 triliun atau tumbuh 8,02 persen. BSI menargetkan pertumbuhan laba atau profitabilitas pada 2026 akan lebih tinggi, yakni mencapai double digit.

“Kami pastikan insya Allah rata-rata pertumbuhan kinerja 2026 berada di level double digit, baik untuk pembiayaan, Dana Pihak Ketiga (DPK), maupun profitabilitas,” kata Wakil Direktur Utama BSI Boy Tyasika Ananta, dikutip Sabtu (7/2/2026).

Boy menerangkan, BSI akan melanjutkan serta mengoptimalkan penguatan identitas sebagai perbankan syariah yang dipadukan dengan bisnis bullion bank untuk menjadi engine pertumbuhan perseroan pada 2026. Ia memaparkan sejumlah strategi yang dijalankan BSI.

Fokus pertama yakni memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan (sustainability). Dalam hal ini, BSI akan menjaga kualitas aset. Tercatat sepanjang 2025, BSI membukukan total aset mencapai Rp 456 triliun atau tumbuh 11,64 persen secara year on year (yoy). Pertumbuhan double digit tersebut ditargetkan dapat dipertahankan pada 2026.

Fokus kedua adalah optimalisasi biaya, terutama cost of fund. Menurut Boy, BSI memulai 2026 dengan cost of fund yang relatif memiliki ruang untuk ditekan lebih rendah.

Seiring dengan penurunan cost of fund pada 2025, BSI mencatatkan pertumbuhan DPK yang lebih tinggi. DPK perseroan tercatat tumbuh 16,20 persen (yoy) menjadi Rp 380,48 triliun. Di sisi lain, pembiayaan tumbuh 14,49 persen menjadi Rp 318,84 triliun pada 2025.

“Kemudian pada 2026 ini, cost of fund di awal tahun relatif lebih rendah dibandingkan sebelumnya, sehingga kami memiliki ruang yang lebih leluasa untuk menggarap bisnis dan menjaga likuiditas yang lebih baik. Ini juga menjadi modal untuk memperbesar bisnis bullion atau produk bullion yang kami miliki,” terangnya.

Ia melanjutkan, fee-based income perseroan pada 2025 juga tercatat mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Boy menilai hal tersebut sejalan dengan peningkatan consumer dan product holding ratio yang menjadi fokus BSI.

“Dalam konteks itu, kekuatan kami ada pada kualitas aset dan efisiensi biaya, khususnya cost of fund. Di atas itu, dari aspek top line income juga terus kami optimalkan,” tegasnya.

Fokus lainnya, kata Boy, yakni peningkatan dana murah yang bersumber dari ekosistem syariah, seperti payroll, tabungan haji, serta bisnis emas. “Sedangkan dari sisi pembiayaan, kami fokus pada segmen consumer, khususnya ASN dan pegawai berpenghasilan tetap, serta UMKM dan emas, juga beberapa program pemerintah untuk kesejahteraan rakyat. Kami optimistis menyambut 2026,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Risk Management BSI Grandhis Helmi Harumansyah menambahkan, strategi pembiayaan pada 2026 tetap difokuskan pada bisnis yang terbukti berkelanjutan serta mampu memberikan yield yang baik dengan risiko yang dapat dipetakan, dimitigasi, dan diminimalkan.

“Di antaranya bisnis yang menjadi target pertumbuhan pada 2026 adalah bisnis consumer, bisnis emas seperti cicil emas dan gadai emas, serta bisnis ritel dan UMKM. Ini menjadi komitmen kami untuk terus mendukung pertumbuhan ekonomi dan keberpihakan BSI terhadap perekonomian rakyat,” ujar Grandhis.

Dalam laporan tahun buku 2025, BSI membukukan laba bersih sebesar Rp 7,57 triliun, naik sekitar 8 persen dibandingkan laba 2024 sebesar Rp 7,01 triliun.

Sepanjang 2025, kinerja BSI tumbuh solid dari sisi aset, pembiayaan, maupun DPK. Aset BSI tercatat mencapai Rp 456 triliun atau tumbuh 11,64 persen (yoy). Pembiayaan mencapai Rp 319 triliun atau tumbuh 14,49 persen (yoy). BSI juga berhasil menjaga rasio pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) tetap rendah, yakni 1,81 persen pada 2025.

DPK tercatat tumbuh 16,20 persen (yoy) menjadi Rp 380 triliun. Sementara itu, tabungan tumbuh 15,72 persen menjadi Rp 163 triliun, sedangkan tabungan haji meningkat 10,03 persen menjadi Rp 15,9 triliun.

Kinerja yang tumbuh paling signifikan berasal dari bisnis emas atau bullion. Sepanjang 2025, nilai bisnis emas BSI tercatat mencapai Rp 22,9 triliun atau tumbuh 78,60 persen.

BSI juga mencatat peningkatan jumlah nasabah pada 2025 mencapai 2 juta orang, menjadi pertumbuhan tertinggi sejak BSI berdiri lima tahun lalu. Hingga Desember 2025, jumlah nasabah BSI telah menembus 23 juta orang.

Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, BSI terus memperkuat posisinya sekaligus menunjukkan kontribusi terhadap perekonomian nasional. Capaian kinerja pada 2025 mencerminkan strategi yang tepat dalam menghadapi dinamika pasar, kebutuhan nasabah, serta komitmen terhadap prinsip syariah yang menjadi dasar operasional perseroan.

Read Entire Article
Politics | | | |