BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem di Jatim, OMC Dikerahkan Amankan Mudik

10 hours ago 8

Pengendara sepeda motor melintasi jalur saat pemberlakuan sistem satu arah (one way) sepenggal di jalur mudik Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (19/3/2026) malam. Satlantas Polresta Bandung pada H-2 Lebaran Idul Fitri 2026 telah melakukan sebanyak empat kali sistem satu arah sepenggal di jalur Nagreg menuju jalur Limbangan, Garut dan Tasikmalaya guna mengurai kemacetan volume kendaraan yang mencapai 129.328 hingga pukul 20.00 WIB.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA – Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda memprediksi Jawa Timur berpotensi mengalami hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang pada periode 11 sampai 20 Maret 2026. Dalam pernyataannya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan cuaca ekstrem tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, serta kondisi atmosfer yang labil sehingga mendukung pertumbuhan awan konvektif.

BMKG mengatakan potensi cuaca ekstrem tersebut berisiko menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan gangguan aktivitas masyarakat, termasuk pada periode arus mudik Lebaran 2026. BMKG menegaskan diperlukan langkah mitigasi aktif untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan.

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, BMKG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengamankan arus mudik dari ancaman cuaca ekstrem. Operasi yang berpusat di Posko Lanudal Juanda ini berlangsung sejak 16 hingga 25 Maret 2026 dengan fokus mengendalikan intensitas curah hujan di wilayah rawan bencana.

Supervisi BMKG, Alif Kurniawan, menjelaskan hingga kemarin, tim gabungan telah melakukan 7 sorti penerbangan dengan total durasi 14 jam 1 menit selama tiga hari pertama pelaksanaan dari 16 sampai 18 Maret. Operasi tersebut menggunakan 6.800 kg bahan semai yang terdiri dari 1.000 kg NaCl dan 5.800 kg CaO yang disemaikan ke awan potensial di langit Jawa Timur.

“Langkah aktif ini terbukti efektif menurunkan9 rata-rata curah hujan hingga 40 persen dibandingkan kondisi normal tanpa intervensi,” ujar Alif seperti dikutip dari pernyataan BMKG, Jumat (20/3/2026).

Evaluasi sementara juga menunjukkan hasil signifikan, di mana kejadian hujan lebat menurun hingga sekitar 70 persen, sementara hujan sangat lebat berkurang sekitar 25 persen. Distribusi hujan kini lebih terkendali dan bergeser menjadi kategori ringan sehingga mengurangi risiko gangguan pada jalur mudik.

Read Entire Article
Politics | | | |