REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia kian terasa setelah pembekuan sebagian indeks oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memicu pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah. Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai langkah tersebut memberi guncangan besar terhadap kepercayaan investor.
"Kita harus melihat pembekuan yang dilakukan MSCI cukup luar biasa terhadap pasar modal Indonesia. Dampaknya IHSG turun, kemudian rupiah pun juga mengalami pelemahan," ujar Ibrahim di Jakarta, Ahad (8/2/2026).
Ibrahim menyampaikan sejumlah lembaga keuangan global seperti Goldman Sachs, Nomura, dan UBS turut menurunkan peringkat saham Indonesia. Sementara itu, Moody’s mengubah outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Namun demikian, Ibrahim menilai belum terlihat dampak signifikan dari capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 sebesar 5,11 persen.
"Walaupun pertumbuhan ekonomi di 2025 cukup bagus, bahkan terbaik di Asia 5,11 persen. Namun pertumbuhan ekonomi ini belum bisa menopang penguatan IHSG dan mata uang rupiah," ucap Ibrahim.
Ibrahim mengatakan sejumlah lembaga pemeringkat internasional menyoroti defisit fiskal Indonesia yang dinilai berisiko karena mendekati angka tiga persen. Namun, ucap dia, masih terdapat upaya dari sejumlah pejabat di Indonesia untuk menolak narasi defisit tersebut.
Lembaga pemeringkat internasional, lanjut dia, menilai para pejabat Indonesia belum sepenuhnya siap menghadapi realitas tersebut. Ibrahim menyebut narasi defisit fiskal kian menambah sentimen pesimistis dan membuat pasar berada dalam kondisi kebingungan.
"Karena banyak pejabat-pejabat di Indonesia, pejabat-pejabat di bawah Presiden Prabowo Subianto yang selalu menolak narasi tentang masalah fiskal," sambung Ibrahim.
Ia memperkirakan tekanan terhadap pasar keuangan nasional masih akan berlanjut setidaknya hingga April–Mei 2026, seiring belum rampungnya persoalan yang berkaitan dengan MSCI, Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam skenario tersebut, ucap dia, nilai tukar rupiah berisiko bergerak ke kisaran Rp 17.200 dan IHSG berpeluang kembali tertekan.
"Artinya masih ada fluktuasi sampai April atau Mei. IHSG masih akan mengalami pelemahan bahkan kemungkinan besar akan menuju level 6.000," kata Ibrahim.

2 hours ago
2














































