Pentagon di Arlington, Virginia, AS.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam satu tahun, militer Amerika akan membuat kemajuan lebih banyak daripada lima tahun sebelumnya. Pernyataan pejabat tinggi Pentagon itu muncul di tengah kekhawatiran baru: kecerdasan buatan kini semakin mendekati kemampuan yang dapat digunakan sebagai senjata siber.
Bukan lagi sekadar chatbot. Departemen Pertahanan Amerika Serikat mulai memperingatkan bahwa model AI generasi terbaru memiliki kemampuan menemukan celah keamanan, mengeksploitasi kerentanan perangkat lunak, dan berpotensi digunakan dalam operasi peretasan berskala besar. Pertanyaannya, siapa yang akan mengawasi teknologi yang semakin kuat ini?
Kekhawatiran itu disampaikan Emil Michael, Wakil Menteri Pertahanan AS untuk Penelitian dan Rekayasa.
Dalam forum Building America Summit yang diselenggarakan The Washington Post, beberapa hari lalu, Michael mengatakan perusahaan-perusahaan AI memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan teknologi mereka tidak berubah menjadi ancaman bagi masyarakat.
"Perusahaan-perusahaan ini memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa apa yang mereka sebut kemampuan persenjataan dari model-model ini ditangani secara hati-hati dan bijaksana," ujarnya.
Peringatan itu datang setelah Gedung Putih mengeluarkan perintah eksekutif baru terkait kecerdasan buatan.
Di bawah kebijakan tersebut, pemerintah AS membentuk pusat informasi keamanan siber AI yang memungkinkan perusahaan teknologi secara sukarela menyerahkan model mereka untuk diuji Pentagon sebelum diluncurkan ke publik. Mengapa pemerintah merasa perlu turun tangan?
Karena ancamannya dianggap nyata. Para pembuat kebijakan di Washington semakin khawatir bahwa AI dengan kemampuan keamanan siber tingkat lanjut dapat dimanfaatkan oleh negara musuh, kelompok kriminal, atau aktor peretas untuk menyerang jaringan listrik, rumah sakit, lembaga pemerintah, hingga infrastruktur penting lainnya.
Yang menjadi sorotan adalah munculnya model-model baru dengan kemampuan ofensif yang semakin canggih. Salah satunya adalah Mythos, model AI terbaru milik Anthropic. Perusahaan tersebut mengakui model itu mampu mengidentifikasi dan mengeksploitasi kelemahan dalam perangkat lunak.
Bagi para pendukung teknologi, kemampuan tersebut berguna untuk memperkuat keamanan digital. Namun bagi para kritikus, kemampuan yang sama dapat berubah menjadi alat serangan yang berbahaya.

1 hour ago
5

















































