REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN — Suasana Masjid Al Huda, Dusun Blekik, Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, tampak berbeda dari biasanya. Bukan hanya lantunan doa yang terdengar, tetapi juga diskusi hangat dan praktik langsung mengolah minyak jelantah menjadi sabun bernilai ekonomi.
Didampingi oleh para mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII), ibu-ibu PKK memperhatikan materi yang dibawakan oleh dosen Teknik Lingkungan UII, Dr Awaluddin Nurmiyanto sebagai narasumber pada Sabtu (14/2/2026) pagi.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat yang diinisiasi oleh Yayasan Badan Wakaf UII diisi oleh Jurusan Farmasi UII berkolaborasi dengan Jurusan Teknik Lingkungan UII. Workshop tersebut dihadiri oleh ibu-ibu PKK Dusun Blekik yang antusias mengikuti setiap tahapan pembuatan sabun, mulai dari penjelasan teori hingga praktik langsung di lokasi.
Dosen Farmasi UII, Fajar Aji Lumakso, menjelaskan alasan pemilihan minyak jelantah sebagai tema workshop.
“Ya, karena di Dusun Blekik sendiri kan banyak usaha rumah tangga yang banyak melibatkan produk gorengan dan lainnya. Sehingga tujuannya nanti biar tetap menjaga kelestarian lingkungan dan juga bisa meningkatkan nilai pasca-pakai dari minyak bekas penggunaan," ujarnya.
Menurutnya, minyak jelantah sering kali menjadi persoalan lingkungan apabila dibuang sembarangan. Padahal, dengan pengolahan yang tepat, limbah tersebut dapat diubah menjadi produk yang memiliki nilai jual. Ia berharap program ini tidak berhenti pada satu kali pertemuan.
"Harapannya nanti program ini bisa berhasil di tingkat KUB, Kelompok Usaha Bersama ibu-ibu, yang nantinya bisa meluas ke tingkat dusun dan selanjutnya lebih luas lagi," katanya menambahkan.
Sementara itu, Awaluddin menekankan pentingnya pendekatan lingkungan dan ekonomi sirkular dalam kegiatan ini.
“Harapannya dengan adanya workshop semacam ini bisa meningkatkan pengelolaan lingkungan terutama dan juga ekonomi sirkular. Jadi, yang awalnya limbah itu bisa jadi berkah, bisa jadi rupiah," ungkapnya.
Di balik semangat para peserta, tersimpan persoalan yang kerap dihadapi masyarakat yakni keinginan untuk mengelola limbah, tetapi minim pengetahuan tentang caranya.
Fajar menilai, sebenarnya masyarakat memiliki kesadaran untuk mengelola sampah atau limbahnya, hanya saja belum mengetahui langkah teknisnya. Melalui kolaborasi antara kampus dan masyarakat, kebutuhan warga bertemu dengan ilmu yang dipelajari mahasiswa di bangku perkuliahan.
“Dengan adanya kegiatan seperti ini, masyarakat menjadi tahu bagaimana menjaga lingkungan, dan juga bagaimana bisa menangani limbah yang melekat dengan kehidupan sehari-hari. Ke depan, harapannya pengelolaan limbah ini bisa menyentuh aspek-aspek lain juga,” katanya.
Bagi ibu-ibu PKK Dusun Blekik, workshop ini bukan sekadar pelatihan teknis. Ia menjadi ruang belajar, ruang berbagi, sekaligus harapan baru. Dari sisa minyak gorengan yang biasanya dianggap tak berguna, kini tumbuh peluang ekonomi berbasis lingkungan, sebuah langkah kecil menuju dusun yang lebih mandiri dan berdaya.

4 hours ago
7














































