Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selamat Hari Lanjut Usia Nasional kepada para sepuh, para senior, para veteran kehidupan, para pemegang saham terbesar dalam perusahaan bernama pengalaman. Kita saling berdoa dapat mengisi hari-hari dengan tabungan amal untuk Akhirat kita.
Di usia yang makin panjang, seperti biasa, kita sering sibuk menghitung tekanan darah, kadar gula, kolesterol, dan jumlah cucu.
Tetapi ada satu pertanyaan yang jauh lebih tua dari semua itu: sebenarnya apa yang membuat kita menua?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sejak zaman para filsuf Yunani sampai para ilmuwan abad ke-21, jawabannya terus berubah.
Ada yang mengatakan tubuh aus seperti mesin tua. Ada yang mengatakan gen kita membawa jam biologis yang suatu saat akan berbunyi. Ada pula yang berpendapat bahwa penuaan hanyalah akumulasi kerusakan yang tak terhindarkan.
Namun para ilmuwan tampaknya belum puas. Mereka terus membongkar isi gudang rahasia tubuh manusia, seolah sedang mencari sakelar tersembunyi yang selama ini membuat rambut memutih, tulang keropos, kulit mengendur, dan ingatan perlahan berjalan tertatih-tatih seperti pejabat yang kehilangan sopir dinas.
Sebuah penelitian menarik baru saja dipublikasikan ScienceDaily, mengutip hasil penelitian tim yang dipimpin Lige Leng dan Jie Zhang dari Xiamen University, Tiongkok. Judul penelitian mereka cukup teknis: Hypothalamic Menin Regulates Systemic Aging and Cognitive Decline, dimuat di jurnal PLOS Biology.
Di balik judul yang rumit itu tersimpan temuan yang membuat banyak ilmuwan mengangkat alis. Mereka menemukan bahwa suatu protein bernama Menin, yang berada di bagian otak kecil bernama hipotalamus, tampaknya berperan penting dalam mengendalikan proses penuaan.
Hipotalamus ini ukurannya tidak lebih besar dari kacang mete. Tetapi tugasnya seperti menteri koordinator segala urusan. Ia mengatur suhu tubuh, hormon, metabolisme, tidur, rasa lapar, stres, dan banyak fungsi penting lainnya. Kalau tubuh adalah sebuah negara, hipotalamus adalah ruang kendali pusat yang lampunya menyala dua puluh empat jam sehari.
Para peneliti menemukan bahwa kadar Menin menurun tajam seiring bertambahnya usia tikus yang dijadikan percobaan dalam penelitian. Ketika protein ini sengaja dikurangi, tikus-tikus muda mulai menunjukkan gejala yang biasa kita sebut "menua".
Tampak kulit menipis, tulang melemah, keseimbangan terganggu, daya ingat menurun, umur hidup lebih pendek, dan peradangan meningkat. Pendek kata, makhluk muda itu mendadak seperti pensiunan yang lupa menaruh kacamata padahal kacamatanya masih bertengger di atas kepala.
Sebaliknya, ketika Menin dikembalikan ke tingkat yang lebih tinggi pada tikus-tikus tua, hasilnya mengejutkan. Dalam waktu sekitar satu bulan, kemampuan belajar membaik, daya ingat meningkat, keseimbangan tubuh lebih baik, kepadatan tulang naik, dan kondisi kulit membaik.
Para ilmuwan seperti menemukan tombol rahasia penuaan yang selama ini tersembunyi di ruang mesin tubuh.
Lebih menarik lagi, mereka menemukan hubungan Menin dengan zat bernama D-serine, sejenis asam amino yang membantu komunikasi antarsel saraf.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

11 hours ago
11











































