Arkeolog Prancis Dipersilakan Uji Metodologi Penanggalan Leang Metanduno, 'Jangan Lupa Harus Izin'

3 hours ago 10

Petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan menunjukan beberapa lukisan prasejarah di gua liang metanduno di kawasan karst gua kabori prasejarah di Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Selasa (21/3/2023). Pihak Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan mendata awal jumlah gua prasejarah sekitar 48 lokasi dan diprediksi usia lukisan didalam gua-gua tersebut sekitar 40 ribu tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Situs Gua Leang Metanduno menyilakan penelitian lain yang ingin menguji umur situs lukisan gua tertua di dunia itu. Arkeolog Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr Adhi Agus Oktaviana mengatakan penelitian nya bersifat terbuka terhadap penelitian tandingan maupun kritikan metodologi.

Hal ini disampaikan Adhi Agus pada Republika, Sabtu (30/5/2026), menyusul terbitnya tanggapan ilmiah dari arkeolog Prancis Georges Sauvet yang menegaskan ia tidak memercayai metode yang digunakan untuk analisis sampel lukisan gua tertua. Karena ada persoalan metodologi, kata Sauvet, maka klaim umur tertua itu harus dibuktikan kembali dengan metode lain.

Pernyataan Sauvet ini disampaikan dalam artikel ilmiah nya berjudul 'Uranium-thorium dating: the race towards the earliest rock art'. Artikel ini diterbitkan di Aplomb Publication, AOJ of Historarchaeology & Anthropological Exploration Volume 2 Issue 1 - 2026, pada 20 Mei lalu.

Sauvet menuding metode U/Th di atas mengandung bias. Bias itu bisa datang dari paling tidak dua hal, yakni model teoritis tertutup dan terbuka dalam melihat peluruhan Uranium/Thorium di dalam kalsit yang terbentuk di atas lapisan warna lukisan gua. Serta, kecenderungan peneliti di situs bersangkutan enggan menggunakan metode penanggalan lainnya, atau mencoba metode lain setelah penanggalan U/Th dilakukan.

Yang dimaksud dengan model teoritis tertutup dan terbuka adalah bagaimana peneliti mengasumsikan peluruhan Uranium/Thorium secara sempurna berada di dalam kalsit, tidak ada kebocoran isotop akibat lingkungan sekitar maupun faktor lain. Atau ada pertukaran unsur kimiawi dengan lingkungan sekitar. Sebaliknya, metode terbuka adalah kemungkinan adanya perubahan dalam kalsit tersebut akibat lingkungan terbuka di situs gua.

Sauvet berargumen, "Di sinilah letak persoalan utamanya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dalam sejumlah kasus sistem tersebut tidak sepenuhnya tertutup atau bersifat 'terbuka'. Kondisi ini terjadi ketika air yang merembes melalui lapisan kalsit menyebabkan sebagian uranium larut dan keluar dari sampel. Akibatnya, komposisi unsur di dalam kalsit berubah sehingga perhitungan usia berdasarkan rasio thorium dan uranium berpotensi menghasilkan estimasi yang tidak akurat."

Read Entire Article
Politics | | | |