Aprianus Gregorian Bahtera
Sastra | 2026-05-30 16:03:50
Oleh Aprianus Gregorian Bahtera
Fakultas Filsafat Universitas Widya Mandira Kupang
Sabtu, 30 Mei 2026
Kita berdiri di ujung cerita,
Diam membisu, tanpa sepatah kata pun,
Hanya tatapan yang mengisyaratkan luka,
Dan keheningan yang menggema dalam jiwa.
Berlalu tanpa kata, seperti angin malam,
Menyisakan dingin yang tak terkatakan,
Semua rasa terpendam dalam kalbu,
Menghilang dalam waktu yang terus berlalu.
Setiap kenangan tersimpan dalam diam,
Menjadi bayang-bayang di setiap langkah,
Cinta yang dulu penuh warna dan cahaya,
Kini meredup, tersapu oleh bayang kelabu.
Tidak ada ucapan selamat tinggal,
Hanya hening yang mengisi ruang kosong,
Perpisahan yang datang tanpa suara,
Meninggalkan jejak yang tak terlihat, namun terasa.
Kita pernah ada, di dunia yang sama,
Namun kini jalan kita berbeda arah,
Berlalu tanpa kata, tanpa penjelasan,
Hanya hati yang tahu, betapa dalam luka ini terpendam.
Mungkin suatu hari, dalam waktu yang jauh,
Kita akan mengerti alasan dibalik bisu ini,
Namun untuk saat ini, kita hanya bisa menerima,
Bahwa kadang cinta berlalu tanpa kata, tanpa tanya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

7 hours ago
8












































