Masjid Sabilurrohman
Khazanah | 2026-02-13 17:55:57
Jalan yang lurus menuju cahaya—seperti hidup yang menemukan arah ketika kembali pada tujuan penciptaan.
Di tengah hiruk-pikuk dunia, manusia sering lupa satu pertanyaan paling mendasar: untuk apa sebenarnya kita hidup? Kita mengejar karier, pengakuan, harta, bahkan popularitas. Namun ada ruang sunyi dalam diri yang tak pernah benar-benar terisi ketika tujuan hakiki tak dipahami.
Allah telah menjawab pertanyaan itu dengan tegas dalam firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini bukan sekadar penjelasan, tetapi penegasan arah. Bahwa hidup bukan kebetulan, dan bukan pula tanpa makna.
Ibadah bukan hanya ritual yang terjadwal. Ia adalah poros kehidupan. Bukan sekadar shalat dan puasa, tetapi seluruh aktivitas yang diniatkan karena Allah. Bekerja dengan jujur adalah ibadah. Menjadi orang tua yang sabar adalah ibadah. Menahan amarah, menepati janji, menjaga lisan—semuanya bisa menjadi ibadah ketika hati mengarah kepada-Nya.
Masalahnya, banyak orang hidup seolah-olah tujuan itu tidak pernah ada. Ketika ibadah dipinggirkan, hidup kehilangan pusat. Kita sibuk bergerak, tetapi tak tahu menuju mana. Sebaliknya, ketika Allah diletakkan di pusat kehidupan, segalanya menjadi lebih jernih—bahkan kegagalan pun terasa bermakna.
Tujuan hidup bukan sekadar sukses, tetapi selamat. Bukan sekadar dikenal manusia, tetapi dikenal oleh Allah.
Hidup tidak selalu perlu ditambah pencapaian, tetapi perlu diluruskan arah. Ketika niat diperbaiki, hal yang biasa menjadi bernilai. Ketika tujuan diluruskan, langkah yang sederhana menjadi ibadah.
Malam ini, mungkin kita perlu bertanya dengan jujur: Apakah hidup kita sudah mengarah pada tujuan penciptaan, atau justru semakin menjauh tanpa kita sadari?
Malam berbisik pelan: kembali ke tujuan, sebelum waktu menghabiskan perjalanan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

3 hours ago
5














































