Mengulas 77 Pertanyaan Sebelum Lahir

2 hours ago 3

Image Rama Kurnia Santosa

Sastra | 2026-02-13 18:52:29

Ada satu klaim yang beredar dengan percaya diri yang mencurigakan: bahwa manusia diberi tujuh puluh tujuh pertanyaan sebelum dilahirkan ke dunia. Angka itu disebut seolah ia memiliki bobot kosmis, padahal ia terdengar seperti hasil rapat panitia yang terlalu lama duduk tanpa data. Saya mencarinya dalam kitab-kitab agama, dalam ayat maupun riwayat yang dapat diverifikasi. Tidak ada. Tidak satu pun rujukan yang kokoh. Namun klaim itu tetap hidup, diulang dengan nada yakin, seakan-akan pengulangan dapat menggantikan bukti.Beginilah cara mitos bekerja di masyarakat yang malas memeriksa. Ia tidak perlu benar; ia hanya perlu terdengar puitis.

Angka “77” memberi kesan simbolik. Pertanyaan sebelum lahir memberi ilusi bahwa hidup ini adalah pilihan sadar, bukan kebetulan biologis yang diselimuti misteri. Manusia, rupanya, lebih suka merasa telah menandatangani kontrak eksistensi daripada mengakui bahwa ia dilempar begitu saja ke dunia tanpa penjelasan awal.Saya justru sering berpikir bahwa nasib terbaik manusia mungkin adalah tidak dilahirkan sama sekali. Pernyataan ini tidak romantis, dan tentu tidak populer. Tetapi ia lahir dari pengamatan sederhana: hidup di dunia berarti tunduk pada kehilangan. Kita kehilangan waktu, kehilangan mimpi, kehilangan orang-orang yang kita cintai. Kita bekerja keras untuk meraih sesuatu, lalu usia menggerogoti hasilnya sedikit demi sedikit.

Dunia memanggil itu “proses”, seolah kata tersebut cukup untuk membuatnya adil.Lalu ada gagasan kedua yang tak kalah membingungkan: bahwa nama, kelahiran, dan kematian kita telah tercatat sejak awal. Jika demikian, mengapa manusia bertindak seolah ia memiliki waktu tak terbatas? Mengapa kita menyia-nyiakan hari-hari dengan hal-hal remeh, dengan kebencian kecil, dengan kompetisi yang tidak akan diingat satu generasi kemudian?

Jika hidup begitu singkat dan sudah ditentukan, ironi terbesar justru terletak pada kelengahan kita sendiri.Sebagian orang lalu melangkah lebih jauh dan membayangkan bahwa hidup ini hanyalah pertunjukan. Kita sekadar aktor, dan para dewa duduk di balkon, menikmati drama yang kita mainkan dengan serius. Gagasan ini terdengar megah sekaligus menyedihkan. Ia memberi makna, tetapi juga merampas kebebasan.

Jika semuanya hanyalah sandiwara, maka penderitaan menjadi dekorasi, dan pilihan moral berubah menjadi naskah yang tak bisa ditolak.Masalahnya bukan pada pertanyaan-pertanyaan metafisik itu sendiri. Manusia memang makhluk yang bertanya. Masalahnya muncul ketika spekulasi diperlakukan sebagai fakta, dan mitos diberi status kebenaran tanpa pemeriksaan. Dalam keadaan seperti itu, masyarakat berhenti berpikir. Mereka mengulang cerita, bukan karena yakin, tetapi karena nyaman.Ironi terbesar mungkin bukan pada dewa-dewa yang bermain, melainkan pada manusia yang berhenti menggunakan akalnya.

Kita menciptakan narasi untuk menenangkan ketidakpastian, lalu terkejut ketika narasi itu tidak mampu menjawab penderitaan yang nyata.Jika hidup ini singkat, dan mungkin telah dicatat entah di mana, satu hal yang tetap berada dalam jangkauan kita adalah kesadaran. Bukan untuk memecahkan misteri kosmos, tetapi untuk tidak menambah kebodohan di atas misteri itu. Dan barangkali, dalam dunia yang gemar memproduksi mitos, tindakan paling radikal adalah menuntut bukti sebelum percaya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |