Rahasia Gelap Militer Israel Bocor, Pasien Gangguan Jiwa Dipaksa Terjun ke Medan Perang

4 hours ago 8

Pasukan militer Israel.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah kantor berita mengungkap fakta mengejutkan mengenai kondisi personel militer Israel di tengah eskalasi perang. Menurut laporan tersebut, ratusan prajurit yang mengalami gangguan psikologis berat, termasuk PTSD (gangguan stres pasca-trauma), dipanggil kembali untuk bertugas meski masih menjalani perawatan rehabilitasi.

Banyak di antara mereka belum sempat diperiksa oleh komite medis resmi, sebuah proses yang bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun. Akibat tekanan dan ancaman dari komandan, sebagian besar akhirnya menyerah dan kembali mengenakan seragam militer meski masih dihantui trauma yang dalam.

Beberapa komandan bahkan mengancam akan menjerat mereka dengan tuduhan desersi jika menolak panggilan tugas. Pendekatan serupa juga diterapkan terhadap tentara cadangan yang baru saja keluar dari bangsal psikiatri, sebagaimana diberitakan Haaretz dan al Mayadeen.

Sejak pecahnya perang dengan Iran, Haaretz menerima lebih dari 20 laporan serupa. Baru setelah ada intervensi pihak militer pada kasus-kasus tertentu, perintah penugasan tersebut dicabut. Kondisi ini mencerminkan betapa daruratnya kekurangan personel militer Israel, hingga pasien gangguan kejiwaan pun tak luput dari panggilan perang.

Di saat yang sama, Gerakan Ansar Allah Yaman (Houthi) kembali melancarkan serangan rudal dan drone terhadap Israel untuk kedua kalinya dalam sehari. Juru bicara militer Houthi, Brigjen Yahya Saree, menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari “Perang Jihad Suci” dan menargetkan sasaran militer di wilayah Palestina selatan yang diduduki.

Saree menegaskan bahwa Houthi akan melanjutkan operasi militer dalam beberapa hari mendatang hingga Israel menghentikan agresinya terhadap Iran dan Lebanon.

Sementara itu, pengungsi Palestina generasi ketiga sekaligus profesor tamu ilmu politik di University of Alberta, Ghada Ageel, menyampaikan solidaritas mendalam kepada rakyat Iran. Dalam opininya di Al Jazeera (28 Maret 2026), ia menilai tragedi yang kini menimpa Iran mencerminkan penderitaan panjang yang dialami rakyat Palestina sejak Nakba hingga kehancuran Gaza.

Ageel menekankan bahwa rakyat Iran tidak menginginkan pergantian penindasan dari satu kekuasaan ke kekuasaan lain. Mereka menolak intervensi asing yang hanya menggantikan bentuk dominasi lama dengan yang baru.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |