Dubes RI di Lebanon Belum Pastikan Prajurit TNI Jadi Korban Serangan Israel  

4 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT — Perwakilan Indonesia di Lebanon menyatakan belum dapat memastikan kabar tentang gugurnya prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) atau UNIFIL akibat militer Israel di Lebanon selatan, Senin (30/3/2026). Duta Besar (Dubes) Indonesia di Beirut Dicky Komar menyampaikan masih terus menelusuri kabar tersebut untuk memastikan.

Dicky mengatakan, kedutaan Indonesia baru mendapatkan kabar kepastian tentang adanya ledakan di pos UNIFIL yang berada dekat Adchit al-Qusayr. “Sementara hanya itu infonya (yang diterima),” kata Dicky kepada Republika di Jakarta, Senin (30/3/2026).

Dikcy menyampaikan laporan dari UNIFIL kepada Kedutaan Indonesia tersebut. “Seorang penjaga perdamaian tewas secara tragis tadi malam ketika sebuah proyektil meledak di posisi UNIFIL dekat Adchit al-Qusayr,” dalam laporan yang diterima Dicky.

Satu pasukan perdamaian UNIFIL lainnya dalam laporan itu juga mengalami luka-luka kritis. Namun dalam laporan tersebut, tak ada disebutkan pihak, atau militer dari negara mana yang bertanggung jawab melakukan penyerangan.

Pun dalam laporan itu tak disebutkan proyektil yang menghantam pos penjaga perdamaian itu berasal dari arah mana. “Kami tidak mengetahui asal proyektil tersebut. Kami akan melakukan penyelidikan untuk menentukan semua keadaan,” begitu laporan UNIFIL kepada Kedutaan RI.

UNIFIL menyampaikan belasungkawa paling dalam atas hilangnya nyawa para personel penjaga perdamaian itu. UNIFIL juga menegaskan penyerangan terhadap pasukan perdamaian merupakan pelanggaran berat atas hukum humaniter atau hukum perang internasional.

Serangan terhadap UNIFIL melanggar Resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB 1701 tentang kejahatan perang. “Serangan yang disengaja terhadap penjaga perdamaian merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional, dan Resolusi DK PBB dan dapat dikatakan sebagai kejahatan perang,” begitu bunyi laporan tersebut.

Kantor Berita Nasional Lebanon, al-Jadeed News sebelumnya mengabarkan tentang militer penjajahan Zionis Israel yang melakukan penyerangan terhadap pos penjaga perdamaian PBB yang berada di Adchit al-Qusayr di Distrik Marjayoun, selatan Lebanon.

Pos tersebut merupakan basis pasukan perdamaian PBB yang berasal dari Kontingen Garuda Indonesia. Informasi yang diterima Republika dari Lebanon mengungkapkan, satu pasukan TNI meninggal dunia terkena serangan itu. Satu personel lainnya, juga dikabarkan hingga kini dalam kondisi yang kritis dan di rawat di Rumah Sakit (RS) St George Beirut.

Markas Besar (Mabes) TNI di Jakarta, pun belum memberikan penjelasan tentang benar atau tidaknya prajurit Indonesia yang turut gugur di Lebanon kali ini. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, pun Kapuspen TNI Brigjen Aulia Dwi Nasrullah tak menjawab pesan Republika untuk memastikan kabar penyerangan terhadap prajurit TNI dalam misi perdamaian PBB di Lebanon itu. Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Indonesia, juga tak memberikan jawaban.

Wilayah selatan Lebanon yang berbatasan langsung dengan pendudukan Zionis Israel di Tanah Palestina memang sejak lama menjadi kawasan biru khusus untuk penempatan Pasukan Perdamaian PBB. Wilayah tersebut kini menjadi front peperangan baru di kawasan Timur Tengah (Timteng) atas agresi Zionis Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Republik Islam Iran. Peperangan antara Zionis-AS dengan Iran sudah genap sebulan sejak agresi pembuka pada 28 Februari 2026 lalu.

Peperangan tersebut menyeret Lebanon karena di kawasan selatan negara itu, terdapat faksi pejuang Hizbullah yang membantu militer Iran dalam melawan agresi Zionis. Peperangan juga terus melebar ke wilayah negara-negara Teluk Arab yang menjadi basis pangkalan-pangkalan militer AS untuk menyerang Iran.

Read Entire Article
Politics | | | |