REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Penelitian terbaru mengungkapkan perubahan iklim memperkuat El Nino. Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science, para ilmuwan menemukan kekuatan El Nino kini 36 persen lebih besar dibandingkan masa praindustri.
Dalam 40 tahun terakhir, kekuatan fenomena alam tersebut meningkat hingga 16 persen. Temuan ini dipublikasikan ketika El Nino terkuat dalam beberapa dekade terakhir diprediksi akan terjadi dalam beberapa bulan mendatang.
El Nino merupakan fenomena alam ketika perairan Pasifik menghangat. Fenomena ini dapat mengubah pola cuaca di seluruh dunia dan meningkatkan risiko cuaca ekstrem, seperti gelombang panas, banjir, dan kekeringan.
"Temuan ini penting karena dampak El Nino kuat terhadap bencana iklim dan cuaca ekstrem di seluruh dunia semakin menguat," kata ilmuwan paleoiklim dari University of Michigan sekaligus penulis utama penelitian, Julia Cole, Kamis (3/9/2026).
Cole mengatakan penelitian tersebut bermula ketika ia dan timnya ingin mengetahui mengapa dampak El Nino terhadap bencana iklim semakin kuat. Mereka kemudian mencocokkan lonjakan suhu global dengan perubahan kekuatan El Nino dan dampaknya terhadap cuaca ekstrem.
"Kami menemukan meningkatnya kekuatan El Nino berparalel dengan lonjakan suhu global yang disebabkan aktivitas manusia lewat pembakaran bahan bakar fosil," kata Cole.
Ia memulai penelitian dengan menelusuri data mengenai El Nino hingga 900 tahun ke belakang. "El Nino aspek paling keras pada variasi iklim di seluruh dunia, dampaknya mulai dari ambruknya perikanan lokal hingga mematikan terumbu karang sampai kekeringan parah dan kelangkaan pangan di seluruh dunia," kata ilmuwan kelautan Dalhousie University, Boris Worm, yang tidak terlibat dalam penelitian Cole.
Worm mengingat kembali peringatan ilmuwan iklim Wallace Broecker bahwa "sistem iklim adalah makhluk buas dan kita menggodanya dengan tongkat kayu." Ia mengumpamakan emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil sebagai tongkat kayu yang digunakan manusia untuk mengusik sistem iklim. "Kemarahan El Nino dapat mengancam keselamatan kolektif kita semua," katanya.
Kekuatan El Nino ditentukan berdasarkan suhu permukaan laut di bagian tengah Pasifik di sekitar ekuator, yang dibandingkan dengan rata-rata suhu normal selama tiga bulan. El Nino terjadi ketika suhu berada setidaknya 0,5 derajat Celsius di atas kondisi normal.
Jika suhunya 2 derajat Celsius lebih tinggi, El Nino masuk kategori sangat kuat. Berdasarkan pelacak El Nino milik Columbia University, suhu perairan Pasifik dalam beberapa pekan terakhir mencapai 2,7 derajat Celsius di atas kondisi normal dan diperkirakan terus meningkat dalam dua hingga empat bulan mendatang.

33 minutes ago
2
















































