REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Mandiri memperkuat posisinya sebagai pemimpin penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG) di industri perbankan nasional dengan pembiayaan hijau yang mencapai Rp 316 triliun hingga akhir 2025. Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Henry Panjaitan mengatakan, penguatan ESG telah menjadi bagian dari cara perseroan mengelola bisnis dan risiko secara menyeluruh, bukan sekadar memenuhi indikator penilaian.
“Bagi Bank Mandiri, ESG bukan sekadar memenuhi indikator penilaian, tetapi merupakan bagian dari cara kami mengelola bisnis dan operasional secara menyeluruh, mulai dari strategi, tata kelola, hingga manajemen risiko,” ujar Henry dalam Paparan Kinerja Bank Mandiri Tahun 2025 yang digelar secara daring, Kamis (5/2/2026).
Ia menambahkan, pendekatan tersebut mengantarkan Bank Mandiri mencatatkan posisi teratas dalam pemeringkatan ESG. “Hasilnya, kami mencatat skor ESG tertinggi di Indonesia. Skor ini tidak hanya unggul di tingkat nasional, tetapi juga bersaing kuat di level ASEAN. Bahkan dari sisi ESG Risk Rating, Bank Mandiri saat ini berada pada kategori risiko terendah yang menjadi terbaik di ASEAN,” kata Henry.
Hingga Desember 2025, portofolio pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri tercatat sebesar Rp 316 triliun atau tumbuh 8 persen secara tahunan. Portofolio tersebut terdiri atas pembiayaan hijau sebesar Rp 166 triliun dan pembiayaan sosial sebesar Rp 150 triliun, dengan pangsa pasar pembiayaan hijau lebih dari 35 persen di antara tiga bank besar nasional.
Henry menjelaskan, kepemimpinan ESG tersebut akan terus diperkuat melalui pipeline pembiayaan berkelanjutan yang dibangun lintas segmen, mulai dari korporasi, ritel, hingga UMKM. “Pipeline ini dibangun lintas segmen, tidak hanya di segmen korporasi, tetapi juga ritel dan UMKM,” ujarnya.
Pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri diarahkan ke sejumlah sektor strategis, antara lain proyek ketahanan energi dan energi terbarukan, pengembangan waste to energy, perumahan inklusif melalui program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), serta penguatan UMKM ekonomi inklusif melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pembiayaan mikro produktif.
Di sisi operasional, Bank Mandiri juga konsisten menurunkan emisi operasional hingga 32 persen dari baseline 2019 melalui optimalisasi green building, penggunaan kendaraan listrik dan hybrid, serta pemasangan panel surya.
Sementara itu, pada aspek inklusi keuangan, Bank Mandiri memperluas akses layanan keuangan UMKM melalui Livin’ Merchant. Hingga akhir 2025, sebanyak 62,7 persen pengguna Livin’ Merchant berada di wilayah non-urban atau setara dengan sekitar 1,9 juta pengguna.
“Dengan fondasi tata kelola dan transparansi yang kuat, Bank Mandiri optimistis memperkuat perannya sebagai katalis transformasi keberlanjutan sekaligus menjaga kepercayaan dari seluruh stakeholder,” ujar Henry.

2 hours ago
3













































